facebook twitter Tumblr Instagram youtube linkedin

Metamorfosis

    • Beranda
    • Cerita Hari Ini
    • Ulasan Buku
    • Ulasan Film
    • _Film Korea
    • _Film Indonesia
    • _Film Thailand
    • Tutorial

    Tahun 2021 baru saja dimulai. Rasanya, baru kemarin memasuki tahun 2020 dengan penuh suka cita dan tidak pernah terbayangkan akan berakhir dengan penuh kehampaan. Biasanya, di akhir tahun, gue me-review perjalanan selama satu tahun itu lewat resolusi yang sudah gue buat di akhir tahun sebelumnya. Dan coba tebak, ada berapa yang gue beri tanda ceklis di resolusi 2020 :’) 

    Melihat resolusi 2020 rasanya membuat hati meringis karena banyak yang tidak terealisasi. Tidak, gue gak mau mengkambing hitamkan pandemi atas semua kegagalan yang terjadi. Ini murni keteledoran gue yang tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik.

    Walaupun begitu, bukan berarti tidak ada hal baik dan membahagiakan yang terjadi sepanjang tahun 2020. Lewat tulisan ini, gue mencoba untuk mengingat kembali hal-hal apa saja yang sangat gue syukuri selama melewati tahun 2020 yang penuh dengan kejutan di dalamnya. Gue berencana untuk membuat beberapa tulisan mengenai review perjalanan selama satu tahun kemarin yang belum sempat gue tulis pada waktu itu. Sekaligus ingin merealisasikan habit menulis yang harusnya dicapai tahun 2020 kemarin. Bismillah.. semoga awal tahun ini menjadi awal yang baik untuk mulai merutinkan kegiatan menulis :)

    Oke, kita mulai dari bulan Januari… ada apa kira-kira di bulan itu?

    Januari 2020

    Awal tahun kemarin, gue masih tinggal di IQF (Indonesia Quran Foundation) sebagai mahasantri angkatan 9. Menjadi bagian dari keluarga IQF adalah salah satu hal yang gue syukuri selama perjalanan hidup gue. Gue mendapatkan banyak ilmu dan hidup dengan orang-orang yang punya beragam karakter dan sangat menginspirasi.

    Di Januari kala itu, IQF sedang mengadakan rangkaian kegiatan IQF Olimpiade, semacam perlombaan antarsantri. Ada perlombaan individu dan ada juga perlombaan berkelompok. Para santri perempuan yang berjumlah kurang lebih 30 orang dibagi ke dalam lima kelompok dan gue masuk ke dalam kelompok yang diberi nama Asy-Syams bersama Nisa, Ka Fitri, Ifa, Devina, dan Famila.

    Rangkaian IQF Olimpiade diadakan selama bulan Januari dengan berbagai mata lomba, mulai dari write a verse, MHQ (Musabaqoh Hifdzil Quran), menulis esai, membuat kaligrafi, pidato, hingga senam. Semua kegiatan itu berakhir dengan pengumuman pemenang pada 27 Januari 2020. Alhamdulillah.. ada beberapa perlombaan yang berhasil dimenangkan oleh kelompok kami :D

    sumber: dok. pribadi

    Dan sedihnya, tak ada satu pun lomba individu yang berhasil gue menangkan haha. Tapi tidak mengapa, gue tetap menikmati keseruan rangkaian perlombaannya :)

    IQF Olimpiade ini diadakan setelah parasantri liburan dan pulang ke kampung halamannya masing-masing. Acara ini bermanfaat banget untuk kembali membiasakan rutinitas positif yang mungkin sempat ditinggalkan selama liburan kemarin. Dengan mengikuti kegiatan ini, gue berusaha sekuat tenaga me-murojaah hapalan karena akan mengikuti lomba MHQ. Harusnya sih selama liburan gue rutin morajaah, tapi kenyataannya gue malah terlena dengan kegiatan yang tidak produktif :")

    Kegiatan IQF Olimpiade ini menjadi awal yang baik dalam memulai perjalanan tahun 2020. Semua santri pada saat itu sibuk mempersiapkan dirinya dan kelompok untuk mengikuti perlombaan. Di Januari juga gue semakin mengenal dekat dengan santri-santri lainnya yang sebelum adanya kegiatan ini, kami jarang berinteraksi. 

    Melihat kilas balik momen Januari 2020 kemarin membuat gue semakin rindu mereka, teman-teman, SPV, dan ustadzah di IQF yang kini sudah tidak lagi tinggal bersama. Semoga kita semua bisa berkumpul lagi dan bisa terus menjaga silaturahmi. Doa terbaik untuk kalian semua :)


    Continue Reading



    Hai, sudah lama tidak berkunjung ke sini. Beberapa bulan ke belakang, gue memang sedang sibuk menyelesaikan Tugas Akhir sebagai syarat menjadi sarjana, diselingi dengan kegiatan magang. Di tengah pandemi yang sudah melanda lebih dari enam bulan lamanya, gue terpaksa harus terbiasa dengan semua kegiatan yang "berbau" online. Bimbingan TA online, termasuk kegiatan magang selama tiga bulan penuh yang diisi dengan WFH dan beronline ria di ruang maya. Hufft lelah rasanya!

    Bulan Maret tahun ini kayaknya menjadi titik balik kehidupan gue. Bukan hanya karena di bulan itu gue lahir ke bumi, tapi di bulan Maret inilah semua kegiatan online bermula, semenjak diberlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). 

    Dari Bulan Maret, kita beranjak ke lima bulan setelahnya. Agustus!

    Di bulan Agustus ini, PSBB di daerah Jabodetabek sudah tidak berlaku dan diganti dengan sistem “New Normal” atau sistem kenormalan baru. Di bulan ini juga, gue harus melepaskan status mahasiswa yang telah disandang selama 4 tahun lamanya. Ada perasaan gak rela sebenernya! Apalagi di saat-saat seperti ini dan gue harus mengucapkan selamat tinggal kepada semua rutinitas dan kesibukan di Depok, orang-orang yang ada di kampus, dan kebebasan selama menjadi mahasiswa.

    Sebelum pandemi ini muncul, gue sudah membayangkan akan menetap di Depok setelah lulus kuliah. Bahkan, gue juga sudah membayangkan akan seperti apa meriahnya acara wisuda di bulan Agustus nanti. Gue pakai toga, dinyanyiin Maba (Mahasiswa Baru), salaman dengan rektor, mengajak keluarga ke Balairung, juga foto bersama teman-teman lainnya.

    Yah, manusia memang hanya bisa berencana. Pada akhirnya, kita tetap harus menjalani takdir yang sudah ditentukan.

    Bagi beberapa orang, "New Normal" ini mungkin membuat mereka harus terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan baru, seperti rajin mencuci tangan, memakai masker, dan sedia hand sanitizer. Lebih dari itu, New Normal membuat gue harus terbiasa dengan rutinitas dan tempat baru. Gue gak lagi dateng ke kampus tiap Senin sampai Jumat. Ngerjain tugas. Rapat. Ngajar privat. 

    Meski rasanya sulit dan belum bisa move on dari kenangan di Depok, gue masih berusaha untuk beradaptasi dan terbiasa dengan rutinitas baru dengan tidak lagi menyandang status sebagai mahasiswa. Sama halnya, ketika gue yang sangat-sangat jarang pakai masker, termasuk ketika naik motor, terpaksa harus terbiasa memakai masker ke mana pun dan di mana pun. Sulit memang pada awalnya, tapi agar gue bisa terhindar dari virus berbahaya, gue harus memaksa diri untuk terbiasa!

    Terakhir, gue ingin mengucapkan terima kasih untuk Depok dan semua kenangan di dalamnya. Terima kasih sudah banyak mengukir kenangan indah dalam hidup dan membentuk diri gue menjadi yang seperti sekarang. Dan, selamat datang kenormalan baru!

    Continue Reading
    Orang bijak pernah berkata, "satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian". Ada benernya juga sih karena sering kali di hidup ini kita menjumpai banyak ketidakpastian, misalnya ketidakpastiaan soal kapan meninggal, kapan menikah, kapan punya anak, dan lain sebagainya. Belakangan ini, dunia juga dihadapkan pada satu hal yang tidak pasti, termasuk Indonesia tentunya. Yap, yaitu terkait virus Covid-19. Kapan kiranya wabah itu bisa segera berakhir? Masih menjadi sebuah ketidakpastian sampai kini. Kita doakan saja, semoga ada kabar baik dalam waktu dekat, ya.

    Entah penyebab yang sebenarnya apa, virus Covid-19 ini tiba-tiba sudah membuat heboh jagat Rapublik Rakyat Cina, lalu diiringi negera-negara lainnya. Di Indonesia, wabah ini baru diketahui sekitar pertengahan Maret dan membuat pemerintah serta seluruh warga Indonesia menggalakkan #dirumahaja untuk mencegah penyebaran virus. Sedih sih sebenarnya, karena gak bisa lagi bebas beraktivitas seperti biasanya. Kegiatan belajar di sekolah, perkuliahan, dan pekerjaan jadi dilakuin di rumah.

    Hari ini, sudah satu pekan benar-benar gak ngelakuin aktivitas di luar rumah, selain belanja di warung. Awalnya mikir, "Yaudah, apa susahnya sih buat diam di rumah aja". Tapi, makin hari rasanya makin jenuh aja di rumah. Sehari dua hari bisa lah, tapi kalau udah satu minggu, rasanya pingin ngelakuin hal lain. Pingin juga pergi ke asrama, tapi dilema. Di asrama seru sih, karena banyak temennya, jadi kalau jenuh bisa ada temen cerita dan bisa ikutin kegiatan asrama lagi, yang kalau dikerjain di rumah rasanya susaaaah. Tapi, takut juga buat menempuh perjalanan jauh menuju asrama. Apalagi ditengah wabah yang semakin parah. Jadi, ngebayangin film Train to Busan!

    Selain itu, ada juga kerjaan dan tugas kuliah yang rasanya lebih kondusif kalau ngerjain di asrama. Soalnya, di rumah banyak godaan! (Ah, padahal tinggal ubah aja pola pikirnya. Di asrama juga belum tentu tuh bakalan rajin ngerjainnya. Hihi) Pokoknya dilema, deh! Padahal, rasanya rindu banget cerita-cerita dan ketemu temen-temen :( tapi takut juga, nanti malah jadi carrier virusnya. Kalau di asrama, kadang juga rindu sama rumah. Hmmm serba salah!

    Sampai hari ini, belum ada kepastian kapan berakhirnya masa isolasi diri di rumah. Ayolah Covid-19, jangan lama-lama di sini! Udah gak betah nih di rumah terus. Meskipun katanya, ketidakpastian adalah hal yang pasti. Tapi, untuk masalah ini, semoga saja segera menemukan kepastian dan titik terang. Semoga tidak ada lagi yang tertular virus. Semoga dunia segera pulih dari masalah ini. Amin ya rabbalamin.
    Continue Reading


    Hari itu, hujan sedang turun dengan deras-derasnya dan hari sudah menjelang Isya. Gue memang selalu malas kalau pakai jas hujan, jadi gue biarkan diri gue kebasahan. Gue pacu motor lebih kencang, biar sampai asrama lebih cepat. Di saat itu, gue gak sadar kalau barang yang teramat penting itu jatuh di jalan. Iya, dompet berisi kartu-kartu penting dan uang untuk hidup beberapa hari ke depan.

    Sampai asrama, gue buru-buru ganti baju dan siap-siap buat ikut kajian Jumat Malam. Kajiannya selesai sekitar pukul 10 lewat, dan saat itu gue masih belum sadar kalau dompet gue jatuh. Barulah, ketika temen gue meminta kembalian uang, gue berusaha mengingat-ingat di mana terakhir kali menggunakan dompet itu. Setelah perenungan beberapa saat, gue berhasil menemukan puzzle-puzzle ingatan tentang dompet itu. Pertama, ketika belanja di toko. Kedua, dompet itu bisa jatuh di jalan. Untuk kemungkinan pertama, gue masih bisa berharap kalau dompetnya disimpan oleh penjaga toko. Tapi, kalau ternyata kemungkinan kedua yang terjadi, gue cuma bisa pasrah dan berdoa semoga kalau rezeki masih bisa kembali. 

    Allah ternyata memang Mahabaik! Ketika gue cek handphone, ternyata sudah ada dua orang yang menghubungi gue terkait dompet itu. Dua orang itu adalah temen sejurusan dan adik tingkat. Dua-duanya dihubungi oleh orang lain, yang sudah lebih dulu dihubungi sama si penemu dompet gue. Penemu dompet gue itu baik banget. Saking baiknya, gue gak nyangka masih ada orang seperti dia. Bayangin, dia berusaha cari pemilik dompet yang dia temuin dengan berbagai cara. Di dompet itu ada kartu mahasiswa gue yang di kartu itu ada nomor induk mahasiswa. Kemungkinan, dia cari nomor induk gue di internet dan menemukan kalau gue ini mahasiswa jurusan Sastra Indonesia. Lalu, dia berusaha mencari narahubung yang berkaitan dengan jurusan Sastra Indonesia. Entahlah, sudah berapa banyak orang yang dia hubungi sampai akhirnya gue dihubungi oleh temen dan adik tingkat di jurusan.

    Ternyata, masih ada orang baik. Padahal, dia bisa aja hubungin pemilik dompet itu besok atau langsung hubungi pihak kampus buat ngembaliin dompet. Dia gak perlu tuh susah-susah hubungi orang lain. Bahkan, bisa aja dia simpan sendiri dompetnya. Toh, gak ada yang tahu. Tapi, dia justu berusaha mencari pemilik dompetnya saat itu juga. Bahkan, sampai malam, dia nungguin gue buat ambil dompetnya. Mungkin, dia berpikir si pemilik dompetnya bakalan kelimpungan nyariin dompet itu, jadi dia harus segera mencari. Gue nggak bisa ngomong apa-apa ke penemu dompet gue itu, selain ucapan terima kasih banyak. Habis itu, gue izin pamit dan kembali ke asrama lagi.

    Hari itu, gue mendapat satu pembelajaran baru, yaitu untuk terus berbuat baik dan jangan menunda untuk melakukan hal-hal baik. Terima kasih penemu dompetku! Mungkin, kalau gak dihubungi malam itu juga, gue udah panik-panik ajaib memikirkan nasib kartu-kartu dan hidup selama beberapa hari ke depan. Dan, lagi-lagi rencana Allah dan rahasia-Nya selalu membuat gue takjub! Coba bayangin, di antara banyaknya manusia di muka bumi ini, Allah pilihkan orang yang menemukan dompet gue itu adalah orang yang baik dan amanah. Semoga Si Penemu Dompet senantiasa berada dalam lindungan Allah dan kebaikannya diganjarkan pahala. Amin!

    Kejadian kayak gini sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Gue juga pernah dua kali kehilangan handphone dan alhamdulillah, handphone itu masih ada sampai sekarang. Pertama, kehilangan ketika gue di perpustakaan. Sebenarnya, itu keteledoran gue sih. Gue gak sengaja ninggalan handphone di sofa depan ruang perpustakaan. Untungnya, handphone itu ditemuin sama orang baik. Dia menitipkan handphone gue ke satpam. Gue pun baru sadar kalau handphone gue gak ada ketika sudah sampai asrama. Firasat gue saat itu, handphone gue ketinggalan di perpustakaan kerena yang terkahir gue ingat, gue masih pegang handphone itu ketika ngobrol dengan teman di sana. Habis ngobrol, gue gak sadar kalau handphone-nya masih di sofa. Akhirnya, gue kembali lagi ke perpustakaan dan inisiatif buat nanya pengunjung yang duduk di tempat gue sebelumnya. Dan, ya.. hanphone gue ada yang nemuin dan disimpan di satpam.

    Masih handphone yang sama. Kali ini hilang di tempat les. Gue baru sadar ketika sudah di stasiun. Kayaknya, kehilangan ini yang paling bikin panik. Pikiran gue kacau. Banyak terlintas di pikiran mengenai kemungkinan di mana hanphone itu hilang. Kemungkinan paling buruk, dicopet! Sampailah gue di rumah kos temen, tempat gue menitipkan motor. Dia lalu bilang kalau handphone gue ketinggalan di tempat les! Saat itu juga, rasanya mau menangis sekaligus lega. Ternyata, handphone gue ketinggalan di ruang kelas dan yang menemukan adalah guru les gue. Gue les gue itu menghubungi teman-teman dan keluarga gue lewat handphone itu.

    Dari kehilang-kehilangan itu, sebenarnya pangkal dari semua yang terjadi adalah keteledoran diri gue! Oleh karena itu, gue memang harus lebih hati-hati lagi dalam menjaga sesuatu. Jangan lupa juga untuk tetap tenang dan berpikiran positif karena semakin kita berpikiran yang buruk membuat hati menjadi grasak-grusuk dan sulit berpikir positif. Nah, hal-hal yang kayak gini nih membuat pikiran jadi buntu sehingga gak bisa menemukan jalan keluar. Jadi, tetap tenang dan think positive!

    Satu lagi, jangan lupa bersyukur!

    Hari menjelang larut, 29 November 2019.
    Continue Reading
    Tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Tahun ini, tepat hari Senin lalu merupakan Hari Guru Nasional. Di hari itu, ramai orang-orang mengucapkan selamat dan terima kasih kepada guru-guru yang telah mendidiknya. Banyak juga sekolah-sekolah yang mengadakan perayaan untuk memeriahkan Hari Guru Nasional. Gue pikir, ucapan-ucapan selamat hari guru hanya ditujukan bagi mereka yang mengajar di sekolah. Iya, guru-guru yang secara formal mengajar dari pagi sampai sore hari. Tapi, pandangan gue akhirnya berubah mengenai konsep Hari Guru. Kenapa begitu? Karena  ada satu hal yang juga membuat gue merasa menjadi manusia yang dibutuhkan dan dihargai. Hahah lebay, ya!

    Begini ceritanya, beberapa bulan ke belakang gue jadi pengajar privat seorang anak kelas 2 SMP. Sebut saja  nama anak ini Fulan. Si Fulan ini sudah tidak lagi sekolah di sekolah formal alias sekarang dia home schooling aja. Hanya satu kali dalam seminggu gue ngajarin dia berbagai mata pelajaran yang biasanya diajarin di sekolah. Si Fulan ini anaknya pemalu dan jarang ngomong, tapi sikapnya manis banget! Setiap gue datang ngajar, dia pasti selalu bikinin teh. Iya, dia yang bikin sendiri! Walaupun rasanya agak-agak pahit gimana gitu, tapi gak apa-apa, sikapnya dia udah manis banget! Hahah... Waktu itu pernah gue ngajar ketika puasa dan dia sudah membuatkan teh seperti biasanya. Gue terlambat bilang kalau hari ini sedang puasa, jadi tehnya sudah tersedia di meja. Akhirnya, dengan sangat tidak enak gue mohon maaf tidak minum tehnya karena sedang puasa.
    Bukan cuma itu aja, setiap pulang, Si Fulan pasti yang membuka dan menutup gerbang dan selalu ngucapin, "Hati-hati di jalan ya, kak!".

    Lalu, ketika Hari Guru kemarin, gue tidak menyangka kalau dia mengucapkannya langsung ke gue. Dia bilang, "Selamat Hari Guru ya, kak!" sambil menyalami tangan gue dan memberikan bingkisan. Siapa yang gak meleleh coba hatinya. Terharu banget! Rasanya gak bisa berkata-kata. Ini salah satu isi bingkisannya.
    Dan, gue baru sadar kalau yang karton biru itu ternyata ada isinya. Apa itu? Yap, surat! Tulisan tangan dia sendiri.
    Sebenarnya, ini bukan perkara benda yang dia berikan. Tapi, niat tulus dia untuk memberikan ucapan yang membuat gue merasa jadi orang yang dihargai dan dibutuhkan. Seringkali rasa lelah muncul tiap menghadapi sikap Si Fulan yang kelihatan tidak mood kalau lagi belajar. Tapi, lelah rasanya terbayar tiap dia mengerti dan memahami materi yang sedang diajarkan. Ternyata, sebenarnya dia memperhatikan! Mungkin hal ini juga yang dirasakan oleh guru-guru di luar sana. Rasanya terharu menyaksikan murid-murid yang diajarkan bertambah satu pengetahuan baru tiap harinya. Dan, memahami apa yang diajarkan. Terima kasih Fulan, kamu telah mengajarkan aku pentingnya apresiasi. Mulai dari hal-hal kecil, seperti memberikan ucapan terima kasih dan ucapan "Hati-hati di jalan". Juga, melalui tindakan sederhana. Sesederhana membuatkan teh hangat, misalnya. You are the best teacher, too! 


    Intinya, terima kasih, dan...
    Selamat Hari Guru untuk para guru yang mengajar di sekolah maupun guru kehidupan. 
    Tanpamu, apa jadinya aku.

    Depok, 25 November 2019.

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Follow me

    • facebook
    • google+
    • tumblr
    • instagram
    • youtube

    Blog Archive

    • Mei 2023 (1)
    • April 2023 (2)
    • September 2021 (1)
    • Juli 2021 (1)
    • Februari 2021 (1)
    • Januari 2021 (3)
    • September 2020 (1)
    • Maret 2020 (1)
    • Desember 2019 (1)
    • November 2019 (2)
    • Oktober 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Februari 2019 (1)
    • November 2018 (1)
    • Maret 2017 (1)
    • Februari 2016 (3)
    • Januari 2016 (2)
    • September 2015 (1)
    • Maret 2015 (3)
    • Januari 2015 (1)
    • Oktober 2014 (4)
    • Juli 2014 (2)
    • Juni 2014 (1)

    Labels

    Cerita Hari Ini Tutorial Ulasan Buku Ulasan Film Ulasan Novel

    Member of

    Member of

    About Me

    Foto saya
    Siti Aliyah
    Seorang penafsir mimpi yang sedang menghidupi mimpi-mimpinya di dunia nyata.
    Lihat profil lengkapku
    facebook Twitter instagram google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top