Halo, Orang Baik!
Minggu, Desember 01, 2019Hari itu, hujan sedang turun dengan deras-derasnya dan hari sudah menjelang Isya. Gue memang selalu malas kalau pakai jas hujan, jadi gue biarkan diri gue kebasahan. Gue pacu motor lebih kencang, biar sampai asrama lebih cepat. Di saat itu, gue gak sadar kalau barang yang teramat penting itu jatuh di jalan. Iya, dompet berisi kartu-kartu penting dan uang untuk hidup beberapa hari ke depan.
Sampai asrama, gue buru-buru ganti baju dan siap-siap buat ikut kajian Jumat Malam. Kajiannya selesai sekitar pukul 10 lewat, dan saat itu gue masih belum sadar kalau dompet gue jatuh. Barulah, ketika temen gue meminta kembalian uang, gue berusaha mengingat-ingat di mana terakhir kali menggunakan dompet itu. Setelah perenungan beberapa saat, gue berhasil menemukan puzzle-puzzle ingatan tentang dompet itu. Pertama, ketika belanja di toko. Kedua, dompet itu bisa jatuh di jalan. Untuk kemungkinan pertama, gue masih bisa berharap kalau dompetnya disimpan oleh penjaga toko. Tapi, kalau ternyata kemungkinan kedua yang terjadi, gue cuma bisa pasrah dan berdoa semoga kalau rezeki masih bisa kembali.
Allah ternyata memang Mahabaik! Ketika gue cek handphone, ternyata sudah ada dua orang yang menghubungi gue terkait dompet itu. Dua orang itu adalah temen sejurusan dan adik tingkat. Dua-duanya dihubungi oleh orang lain, yang sudah lebih dulu dihubungi sama si penemu dompet gue. Penemu dompet gue itu baik banget. Saking baiknya, gue gak nyangka masih ada orang seperti dia. Bayangin, dia berusaha cari pemilik dompet yang dia temuin dengan berbagai cara. Di dompet itu ada kartu mahasiswa gue yang di kartu itu ada nomor induk mahasiswa. Kemungkinan, dia cari nomor induk gue di internet dan menemukan kalau gue ini mahasiswa jurusan Sastra Indonesia. Lalu, dia berusaha mencari narahubung yang berkaitan dengan jurusan Sastra Indonesia. Entahlah, sudah berapa banyak orang yang dia hubungi sampai akhirnya gue dihubungi oleh temen dan adik tingkat di jurusan.
Ternyata, masih ada orang baik. Padahal, dia bisa aja hubungin pemilik dompet itu besok atau langsung hubungi pihak kampus buat ngembaliin dompet. Dia gak perlu tuh susah-susah hubungi orang lain. Bahkan, bisa aja dia simpan sendiri dompetnya. Toh, gak ada yang tahu. Tapi, dia justu berusaha mencari pemilik dompetnya saat itu juga. Bahkan, sampai malam, dia nungguin gue buat ambil dompetnya. Mungkin, dia berpikir si pemilik dompetnya bakalan kelimpungan nyariin dompet itu, jadi dia harus segera mencari. Gue nggak bisa ngomong apa-apa ke penemu dompet gue itu, selain ucapan terima kasih banyak. Habis itu, gue izin pamit dan kembali ke asrama lagi.
Hari itu, gue mendapat satu pembelajaran baru, yaitu untuk terus berbuat baik dan jangan menunda untuk melakukan hal-hal baik. Terima kasih penemu dompetku! Mungkin, kalau gak dihubungi malam itu juga, gue udah panik-panik ajaib memikirkan nasib kartu-kartu dan hidup selama beberapa hari ke depan. Dan, lagi-lagi rencana Allah dan rahasia-Nya selalu membuat gue takjub! Coba bayangin, di antara banyaknya manusia di muka bumi ini, Allah pilihkan orang yang menemukan dompet gue itu adalah orang yang baik dan amanah. Semoga Si Penemu Dompet senantiasa berada dalam lindungan Allah dan kebaikannya diganjarkan pahala. Amin!
Kejadian kayak gini sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Gue juga pernah dua kali kehilangan handphone dan alhamdulillah, handphone itu masih ada sampai sekarang. Pertama, kehilangan ketika gue di perpustakaan. Sebenarnya, itu keteledoran gue sih. Gue gak sengaja ninggalan handphone di sofa depan ruang perpustakaan. Untungnya, handphone itu ditemuin sama orang baik. Dia menitipkan handphone gue ke satpam. Gue pun baru sadar kalau handphone gue gak ada ketika sudah sampai asrama. Firasat gue saat itu, handphone gue ketinggalan di perpustakaan kerena yang terkahir gue ingat, gue masih pegang handphone itu ketika ngobrol dengan teman di sana. Habis ngobrol, gue gak sadar kalau handphone-nya masih di sofa. Akhirnya, gue kembali lagi ke perpustakaan dan inisiatif buat nanya pengunjung yang duduk di tempat gue sebelumnya. Dan, ya.. hanphone gue ada yang nemuin dan disimpan di satpam.
Masih handphone yang sama. Kali ini hilang di tempat les. Gue baru sadar ketika sudah di stasiun. Kayaknya, kehilangan ini yang paling bikin panik. Pikiran gue kacau. Banyak terlintas di pikiran mengenai kemungkinan di mana hanphone itu hilang. Kemungkinan paling buruk, dicopet! Sampailah gue di rumah kos temen, tempat gue menitipkan motor. Dia lalu bilang kalau handphone gue ketinggalan di tempat les! Saat itu juga, rasanya mau menangis sekaligus lega. Ternyata, handphone gue ketinggalan di ruang kelas dan yang menemukan adalah guru les gue. Gue les gue itu menghubungi teman-teman dan keluarga gue lewat handphone itu.
Dari kehilang-kehilangan itu, sebenarnya pangkal dari semua yang terjadi adalah keteledoran diri gue! Oleh karena itu, gue memang harus lebih hati-hati lagi dalam menjaga sesuatu. Jangan lupa juga untuk tetap tenang dan berpikiran positif karena semakin kita berpikiran yang buruk membuat hati menjadi grasak-grusuk dan sulit berpikir positif. Nah, hal-hal yang kayak gini nih membuat pikiran jadi buntu sehingga gak bisa menemukan jalan keluar. Jadi, tetap tenang dan think positive!
Satu lagi, jangan lupa bersyukur!
Hari menjelang larut, 29 November 2019.


0 comments