facebook twitter Tumblr Instagram youtube linkedin

Metamorfosis

    • Beranda
    • Cerita Hari Ini
    • Ulasan Buku
    • Ulasan Film
    • _Film Korea
    • _Film Indonesia
    • _Film Thailand
    • Tutorial

           

    sumber: doc. pribadi

            Hidup adalah menjalani konsekuensi dari sebuah pilihan. Ya, begitulah yang disampaikan Bayu Adi Persada dalam bukunya berjudul Anak-Anak Angin: Keping Perjalanan Seorang Pengajar Muda. Bayu Adi Persada adalah salah seorang dari 51 Pengajar Muda angkatan pertama Indonesia Mengajar. Kalimat tersebut mungkin menjadi salah satu motivasi bagi penulis buku ini dalam menjalani konsekuensi hidupnya yang memilih untuk mengabdikan diri selama 1 tahun di desa Bibinoi, Halmahera Selatan.

    Indonesia Mengajar merupakan sebuah lembaga yang melatih dan mengirimkan pemuda terbaik bangsa untuk mengabdi sebagai Pengajar Muda selama satu tahun di berbagai sudut Indonesia. Anak-Anak Angin menjadi bukti perjalanan Bayu Adi Persada dalam mengabdikan diri sebagai pengajar muda di desa Bibinoi pada tahun 2010-2011. Pak Bayu, panggilannya selama di Bibinoi, menuliskan kisah perjalanan dan pengalamannya sejak awal tiba di desa tersebut sampai hari terakhir dan harus berpisah dengan semua warga Bibinoi.

    Buku ini terdiri atas beberapa bab yang tersusun beradasarkan bulan, mulai dari bulan November 2010 sampai November 2011. Tiap bab berisi beberapa kisah yang diberi judul sesuai dengan kisahnya masing-masing. Setiap kisah memiliki pembelajaran sekaligus dapat memotivasi para pembacanya, khususnya bagi pembaca yang menyukai dunia pendidikan.

    Bukan hanya berisi kisah dalam mengajar anak-anak SD di desa Bibinoi, Pak Bayu juga berbagi kisah dalam berinteraksi dengan masyarakat dan keluarga tempatnya tinggal. Permasalahan dan kesalahpahaman tidak luput mewarnai hari-hari Pak Bayu selama di sana. Namun, semua itu akhirnya menemui jalan keluarnya seiring berjalannya waktu.

    Salah satu kisah yang menarik yang diceritakan Pak Bayu adalah kisah yang berjudul “Belajar dari Seorang Ajrul”. Ajrul merupakan murid kelas 5 yang memiliki tabiat yang agak sulit diatur dan tidak memiliki rasa hormat dengan guru-guru. Meski sudah sering diberi hukuman, Ajrul sering berulah, seperti tidak jera dengan semua hukuman yang diberikan. Puncaknya, Pak Bayu meminta maaf karena harus menampar Ajrul karena perbuatannya yang sudah mengotori Rumah Belajar. Hal itu merupakan salah satu bentuk hukuman fisik yang terpaksa dilakukan Pak Bayu.

    Sebetulnya, hukuman fisik memang sudah biasa dilakukan sebagai efek jera bagi murid-murid di sana yang kerap melanggar aturan. Namun, Pak Bayu menyadari bahwa tindakan tersebut tidak dibenarkan. Setelah kejadian tersebut, perlahan sikap Ajrul mulai berubah. Ia mulai mau mengerjakan tugas dan menghormati guru yang lain. Meski bukan suatu tindakan yang dibenarkan, Ajrul berbesar hati memaafkan Pak Bayu yang telah menamparnya dan mau berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

    Dari Ajrul, aku belajar tentang kebesaran hati. Dia mau menerima dan mengakui kesalahannya meski harus dengan cara yang tak menyenangkan. Dia mampu memperbaiki tingkah lakunya untuk menjadikan dirinya lebih baik. Tanpa membenci dan mengeluh, Ajrul percaya diri untuk menjalani kehidupannya yang masih panjang.

    Kisah yang ditulis dalam buku ini dibuat dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami. Selain itu, Pak Bayu juga menceritakannya layaknya di sebuah diary. Pembaca seakan diajak langsung  menyaksikan perjalanan Pak Bayu mengabdi di desa Bibinoi. Pembaca juga seolah-olah berkenalan langsung dengan tokoh-tokoh yang diceritakan di buku tersebut.

    Anak-Anak Angin bisa menjadi salah satu bacaan ringan yang layak dibaca, terutama bagi pembaca yang menyukai dunia pendidikan dan anak-anak. Sebagai salah seorang yang berkecimpung di bidang tersebut, membaca buku ini menjadi salah satu cara untuk me-recharge semangat diri. Sebagai penutup, ada kalimat menarik dari Pak Bayu yang bisa kita teladani.

    Aku bukan guru yang sempurna, tapi setidaknya aku selalu memberikan yang terbaik. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa mudah-mudahan yang kita lakukan tak akan sia-sia dan berbekas mulia di hati orang lain.

    Semoga masih banyak tenaga pendidik yang berdedikasi seperti Pak Bayu dan guru-guru di Bibinoi dalam mendidik putra-putri penerus bangsa.

    Continue Reading

    Sumber: doc. pribadi

    Tahun ini, Andrea Hirata kembali menerbitkan novelnya. Kali ini, novel yang diterbitkan berjudul Orang-orang Biasa. Ketika pertama kali lihat novel barunya Andrea Hirata ini, gue langsung tertarik buat baca, ditambah lagi warna cover novelnya yang eye catching membuat gue tidak hanya tertarik untuk baca, tapi juga tertarik untuk memilikinya. 
    Yup! Meskipun judulnya orang-orang biasa, tapi cerita dan tokoh-tokoh yang ditulis sama Andrea di novel ini sama sekali tidak biasa. Andrea menceritakan 10 orang sahabat yang berteman sejak SMA, yaitu Salud, Junilah, Sobri, Honorun, Tohirin, Rusip, Nihe, Handai, Dinah, dan Debut. Kesepuluh orang itu masing-masing punya karakter yang unik. Unik, sekaligus memperihatinkan! Mereka dipertemukan di SMA dalam satu kelas yang sama atas dasar kesamaan nasib, yaitu sama-sama bebal dalam pelajaran sekaligus selalu jadi korban perundungan. 
    Kecuali Debut, semuanya merupakan penghuni bangku paling belakang yang juga selalu terbelakang dalam masalah pelajaran. Namun, tiada angin tiada pula hujan, Debut mengajukan dirinya untuk bisa duduk di bangku belakang bersama Salud dkk.. Setelah itu, Debut menyatakan diri atas persetujuan diri sendiri sebagai pemimpin sepuluh sekawan tersebut. 
    Sayangnya, sepuluh sekawan tersebut tidak menyelesaikan sekolah sampai lulus. Masing-masing punya alasan atas ketikdaklulusan mereka, ada yang berhenti sekolah karena biaya, ada pula yang sudah tidak sanggup lagi mengikuti pelajaran sehingga diminta berhenti secara baik-baik oleh pihak sekolah. Selepas keluar dari sekolah, mereka bekerja dan hidup masing-masing.
    Bertahun-tahun berlalu, akhirnya sepuluh sekawanan penghuni bangku belakang bertemu kembali atas dasar tujuan yang sama. Membantu Aini kuliah di Fakultas Kedokteran! Aini adalah anak pertama Dinah. Awalnya, sembilan sahabat Dinah tidak percaya dengan kabar tersebut. Mereka tidak menyangka bahwa anak dari salah satu orang terbebal dalam pelajaran di sekolah diterima di Fakultas Kedokteran univeritas ternama. Sayangnya, langkah Aini untuk berkuliah harus terjegal karena masalah ekonomi.
    Dinah dan Aini sebetulnya sudah berusaha mencari pinjaman uang, namun tidak berhasil karena tidak memiliki jaminan. Pekerjaan Dinah hanyalah sebagai pedagang kaki lima. Dinah juga harus menghidupi anak-anaknya seorang diri karena suaminya sudah lebih dulu menghadap ilahi. 
    Tidak ingin cita-cita Aini pupus, sepuluh sekawan tersebut merencanakan perampokan bank demi mendapatkan uang karena mereka pun sebetulnya hidup serba kekurangan. Oleh karena itu, satu-satunya cara yang bisa mereka lakukan adalah merampok!
    Sebagai pemimpin dalam rencana perampokan itu, Debut mengeluarkan sebuah petuah di saat Dinah ragu dan pesimis akan keberhasilan rencana mereka.
    “Tangkap! Tangkaplah orang miskin yang berjuang agar anaknya bisa sekolah! Kita ini bukan merampok, Dinah! Kita ini melawan ketidakadilan! Tengoklah banyaknya anak-anak pintar miskin yang tidak dipedulikan Pemerintah! Tengoklah jurusan tertentu hanya dapat dimasuki orang-orang kaya! Tengoklah langkanya anak-anak orang-orang miskin jadi dokter! Mendaftar ke fakultas itu saja mereka tak berani! Padahal, kecerdasan mereka siap diadu! Ilmu hendaklah hanya tunduk pada kecerdasan, bukan pada kekayaan!” (Hirata, 2019: 117)
    Dari kutipan di atas kita bisa melihat pesan yang disampaikan dalam novel ini, yaitu kesenjangan antara si miskin dan si kaya dalam memperoleh pendidikan. Hal tersebut bukan masalah baru karena banyak terjadi di sekeliling kita. Dalam bagian pendahuluan di novel ini juga disebutkan latar belakang Andrea Hirata menulis cerita ini, yaitu kekecewaan Andrea akan kegagalannya memperjuangkan seorang anak miskin yang pintar untuk masuk Fakultas Kedokteran Universitas Bengkulu.
    Andrea memang sering menceritakan masalah dunia pendidikan dan kemiskinan dalam karya-karyanya. Selain Orang-orang Biasa, ada pula novel laskar pelangi yang juga bertema sama. Tokoh-tokoh dalam kedua novel tersebut harus berjuang untuk menghidupkan mimpinya di tengah ketidakstabilan ekonomi. Di novel Orang-orang biasa, pada awalnya Aini adalah anak yang bebal dalam pelajaran sebagaimana Dinah, ibunya. Baginya, sekolah hanya sekadar fomalitas. Sampai akhirnya Aini punya cita-cita. Cita-citanya itulah yang menjadikan Aini giat belajar. 
    Andrea juga masih menyebut nama Kota Belantik sebagai latar kisah di novel ini seperti dalam novel-novel Andrea lainnya. Entah, Kota Belantik itu memang benar adanya atau hanya buatan. Menariknya dari novel ini adalah penyebutan nama-nama tokohnya. Andrea selalu punya ide tidak terduga dalam memberikan nama untuk tokoh-tokohnya. Selain itu, banyak adegan lucu yang juga membuat novel ini menjadi semakin menarik. Misalnya, Sobri yang menggertak pengunjung bank dengan pantun sebelum memulai merampok.

    PAM MARAH, KITA TAK MANDI!
    PLN MARAH, LAMPU GELAP!
    INILAH SAAT YANG DINANTI-NANTI!
    PERAMPOK DATANG, SEMUA TIARAP!!!
    (Hirata, 2019: 184)

    Bisa-bisaan , ya, sebelum merampok dia pantun dulu! wkwk
    Kalau biasanya, penulis membuat tokoh dengan karakter yang sempurna. Andrea justru kebalikannya. Tokoh-tokohnya diceritakan hidup memperihatinkan. Uang tak punya dan nasib baik pun selalu tidak berpihak pada tokoh-tokohnya. Mungkin Andrea ingin menyampaikan bahwa setiap manusia memang tidak sempurna, tapi selalu ada hal baik yang dimilikinya. Misalnya, di novel Orang-orang Biasa ini, meski sepuluh sekawan tersebut tidak punya hal yang dibanggakan dalam hidup, setidaknya mereka masih punya niat baik untuk mewujudkan mimpi seorang anak agar bisa kuliah di Fakultas Kedokteran!
    Kira-kira berhasil gak yah perampokkannya dan berhasilkah Aini kuliah di Fakultas Kedokteran? Silakan simak sendiri dan ikuti kelanjutan kisahnya di Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata!
    Mari kita akhiri tulisan ini dengan pantun kilat,

    Kampung Babelan ada di Kabupaten Bekasi
    Cukup sekian dan terima kasih!
    Hehe

    Sumber
    Hirata, Andrea. 2019. Orang-Orang Biasa. Yogyakarta: Bentang Pustaka.

    Continue Reading

    Judul               : Cinta di Dalam Gelas
    Penulis             : Andrea Hirata
    Penerbit           : Bentang
    Tahun Terbit    : 2011
    Cetakan ke      : 6 (Mei 2012)
    Tebal Buku      : 264 halaman
    ISBN               : 978-602-8811-09-5

    “Tak ada permainan lain seperti catur, di mana kemenangan dan kekalahannya dapat di tawar. Tak ada permainan lain yang dengan secangkir kopi tampak seperti bertunangan.” (Hal. 243)

    Cinta di dalam gelas adalah kelanjutan dari novel yang berjudul Padang Bulan. Di novel ini, Andrea Hirata masih memilih Belitong sebagai latar cerita dan tokoh ‘aku’ masih diperankan oleh Ikal. Tokoh utama di novel ini adalah Enong atau Maryamah binti Zamzami. Maryamah diceritakan sebagai seorang perempuan yang tangguh dan perempuan pertama yang bekerja sebagai pendulang timah untuk menghidupi ibu serta adik-adiknya setelah ayahnya meninggal. Maryamah bekerja keras menjadi pendulang timah sejak usianya baru 14 tahun. Meski ia harus putus sekolah demi menghidupi ibu serta adik-adiknya, kecintaan dan keinginannya untuk mahir berbahasa Inggris tidak pernah padam. Bahkan Maryamah rajin mengikuti kursus bahasa Inggris di kota seminggu sekali.

    Bagi ketiga adiknya, Maryamah adalah pahlawan karena ia selalu berjuang dan berusaha untuk memenuhi apa yang dibutuhkan oleh ketiga adiknya. Hingga adik-adiknya menikah, Maryamah belum juga menemukan pendamping hidup. Untuk menyenangkan hati ibunya, akhirnya Maryamah menerima pinangan seorang lelaki yang bernama Matarom. Matarom adalah seorang pecatur yang telah menang dua kali berturut-turut dalam kejuaraan catur 17 Agustus.

    Perkawinan Maryamah dengan Matarom ternyata tidak seperti perkawinan ketiga adiknya. Maryamah sering menerima perlakuan buruk dari Matarom, namun ia masih bisa bertahan. Akan tetapi pertahanannya berakhir ketika ia mengetahui jika Matarom telah memiliki istri. Akhirnya pernikahan mereka berakhir secara menyedihkan dengan sakit hati yang ditanggung oleh Maryamah. Sakit hatinya itu ingin ia balaskan dengan cara menantang Matarom dalam kejuaraan catur pada 17 Agustus, padahal Maryamah tidak bisa bermain catur. Catur merupakan suatu hal yang penting di Belitong dan telah menjadi tradisi yang dapat mengangkat derajat seseorang apabila berhasil menjuarai kejuaraan yang diselenggarakan pada lomba 17 Agustus-an. Oleh karena itu, Maryamah ingin merebut kembali martabatnya sebagai perempuan dengan menantang juara bertahan sekaligus membalaskan dendamnya. Kejuaraan catur tersebut diadakan di warung kopi yang bernama ‘Usah Kau Kenang Lagi’ yang merupakan warung kopi tempat Ikal bekerja.

    Mendengar seorang perempuan akan mengikuti kejuaraan catur, banyak orang Melayu yang tidak setuju karena menurut mereka catur merupakan permainan khusus lelaki. Namun setelah dilakukan voting, akhirnya Maryamah bisa mengikuti kejuaraan catur pada 17 Agustus. Maryamah berusaha keras untuk bisa mengalahkan Matarom dengan bantuan Ninochka Stronovsky, seorang Grand Master yang merupakan teman Ikal.

    Terlepas dari kisah Maryamah, Andrea Hirata juga mengangkat kisah tentang kebiasaan lelaki Melayu yang gemar berlama-lama di warung kopi. Tentu saja mereka menghabiskan waktu di warung kopi tersebut untuk mengobrol sambil minum kopi dan bermain catur. Ikal yang bekerja di warung kopi milik pamannya, diam-diam mengamati kebiasaan orang Melayu dalam meminum kopi dan menuliskannya dalam Buku Besar Peminum Kopi.

    “Kopi adalah minuman yang ajaib, setidaknya bagi lidah orang Melayu, karena rasanya dapat berubah berdasarkan tempat.”


    Keahlian Andrea Hirata dalam menyajikan kisah antara kopi, catur, dan seorang perempuan tangguh membuat novel ini memiliki makna yang besar. Andrea Hirata juga banyak memberikan filosofi-filosofi yang sangat menarik, seperti filosofi tentang kopi. Selain itu, banyak pelajaran yang bisa diambil dari novel Cinta di dalam gelas, di antaranya motivasi perjuangan hidup seorang pendulang timah dan semangatnya yang tidak pernah padam untuk terus belajar. 
    Continue Reading
    Older
    Stories

    Follow me

    • facebook
    • google+
    • tumblr
    • instagram
    • youtube

    Blog Archive

    • Mei 2023 (1)
    • April 2023 (2)
    • September 2021 (1)
    • Juli 2021 (1)
    • Februari 2021 (1)
    • Januari 2021 (3)
    • September 2020 (1)
    • Maret 2020 (1)
    • Desember 2019 (1)
    • November 2019 (2)
    • Oktober 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Februari 2019 (1)
    • November 2018 (1)
    • Maret 2017 (1)
    • Februari 2016 (3)
    • Januari 2016 (2)
    • September 2015 (1)
    • Maret 2015 (3)
    • Januari 2015 (1)
    • Oktober 2014 (4)
    • Juli 2014 (2)
    • Juni 2014 (1)

    Labels

    Cerita Hari Ini Tutorial Ulasan Buku Ulasan Film Ulasan Novel

    Member of

    Member of

    About Me

    Foto saya
    Siti Aliyah
    Seorang penafsir mimpi yang sedang menghidupi mimpi-mimpinya di dunia nyata.
    Lihat profil lengkapku
    facebook Twitter instagram google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top