Menyaksikan Langsung Kisah Perjalanan Pak Bayu di Bibinoi (Baca #BarengBookawan #1)

Minggu, September 12, 2021

       

sumber: doc. pribadi

        Hidup adalah menjalani konsekuensi dari sebuah pilihan. Ya, begitulah yang disampaikan Bayu Adi Persada dalam bukunya berjudul Anak-Anak Angin: Keping Perjalanan Seorang Pengajar Muda. Bayu Adi Persada adalah salah seorang dari 51 Pengajar Muda angkatan pertama Indonesia Mengajar. Kalimat tersebut mungkin menjadi salah satu motivasi bagi penulis buku ini dalam menjalani konsekuensi hidupnya yang memilih untuk mengabdikan diri selama 1 tahun di desa Bibinoi, Halmahera Selatan.

Indonesia Mengajar merupakan sebuah lembaga yang melatih dan mengirimkan pemuda terbaik bangsa untuk mengabdi sebagai Pengajar Muda selama satu tahun di berbagai sudut Indonesia. Anak-Anak Angin menjadi bukti perjalanan Bayu Adi Persada dalam mengabdikan diri sebagai pengajar muda di desa Bibinoi pada tahun 2010-2011. Pak Bayu, panggilannya selama di Bibinoi, menuliskan kisah perjalanan dan pengalamannya sejak awal tiba di desa tersebut sampai hari terakhir dan harus berpisah dengan semua warga Bibinoi.

Buku ini terdiri atas beberapa bab yang tersusun beradasarkan bulan, mulai dari bulan November 2010 sampai November 2011. Tiap bab berisi beberapa kisah yang diberi judul sesuai dengan kisahnya masing-masing. Setiap kisah memiliki pembelajaran sekaligus dapat memotivasi para pembacanya, khususnya bagi pembaca yang menyukai dunia pendidikan.

Bukan hanya berisi kisah dalam mengajar anak-anak SD di desa Bibinoi, Pak Bayu juga berbagi kisah dalam berinteraksi dengan masyarakat dan keluarga tempatnya tinggal. Permasalahan dan kesalahpahaman tidak luput mewarnai hari-hari Pak Bayu selama di sana. Namun, semua itu akhirnya menemui jalan keluarnya seiring berjalannya waktu.

Salah satu kisah yang menarik yang diceritakan Pak Bayu adalah kisah yang berjudul “Belajar dari Seorang Ajrul”. Ajrul merupakan murid kelas 5 yang memiliki tabiat yang agak sulit diatur dan tidak memiliki rasa hormat dengan guru-guru. Meski sudah sering diberi hukuman, Ajrul sering berulah, seperti tidak jera dengan semua hukuman yang diberikan. Puncaknya, Pak Bayu meminta maaf karena harus menampar Ajrul karena perbuatannya yang sudah mengotori Rumah Belajar. Hal itu merupakan salah satu bentuk hukuman fisik yang terpaksa dilakukan Pak Bayu.

Sebetulnya, hukuman fisik memang sudah biasa dilakukan sebagai efek jera bagi murid-murid di sana yang kerap melanggar aturan. Namun, Pak Bayu menyadari bahwa tindakan tersebut tidak dibenarkan. Setelah kejadian tersebut, perlahan sikap Ajrul mulai berubah. Ia mulai mau mengerjakan tugas dan menghormati guru yang lain. Meski bukan suatu tindakan yang dibenarkan, Ajrul berbesar hati memaafkan Pak Bayu yang telah menamparnya dan mau berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Dari Ajrul, aku belajar tentang kebesaran hati. Dia mau menerima dan mengakui kesalahannya meski harus dengan cara yang tak menyenangkan. Dia mampu memperbaiki tingkah lakunya untuk menjadikan dirinya lebih baik. Tanpa membenci dan mengeluh, Ajrul percaya diri untuk menjalani kehidupannya yang masih panjang.

Kisah yang ditulis dalam buku ini dibuat dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami. Selain itu, Pak Bayu juga menceritakannya layaknya di sebuah diary. Pembaca seakan diajak langsung  menyaksikan perjalanan Pak Bayu mengabdi di desa Bibinoi. Pembaca juga seolah-olah berkenalan langsung dengan tokoh-tokoh yang diceritakan di buku tersebut.

Anak-Anak Angin bisa menjadi salah satu bacaan ringan yang layak dibaca, terutama bagi pembaca yang menyukai dunia pendidikan dan anak-anak. Sebagai salah seorang yang berkecimpung di bidang tersebut, membaca buku ini menjadi salah satu cara untuk me-recharge semangat diri. Sebagai penutup, ada kalimat menarik dari Pak Bayu yang bisa kita teladani.

Aku bukan guru yang sempurna, tapi setidaknya aku selalu memberikan yang terbaik. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa mudah-mudahan yang kita lakukan tak akan sia-sia dan berbekas mulia di hati orang lain.

Semoga masih banyak tenaga pendidik yang berdedikasi seperti Pak Bayu dan guru-guru di Bibinoi dalam mendidik putra-putri penerus bangsa.

You Might Also Like

0 comments