facebook twitter Tumblr Instagram youtube linkedin

Metamorfosis

    • Beranda
    • Cerita Hari Ini
    • Ulasan Buku
    • Ulasan Film
    • _Film Korea
    • _Film Indonesia
    • _Film Thailand
    • Tutorial
    Tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Tahun ini, tepat hari Senin lalu merupakan Hari Guru Nasional. Di hari itu, ramai orang-orang mengucapkan selamat dan terima kasih kepada guru-guru yang telah mendidiknya. Banyak juga sekolah-sekolah yang mengadakan perayaan untuk memeriahkan Hari Guru Nasional. Gue pikir, ucapan-ucapan selamat hari guru hanya ditujukan bagi mereka yang mengajar di sekolah. Iya, guru-guru yang secara formal mengajar dari pagi sampai sore hari. Tapi, pandangan gue akhirnya berubah mengenai konsep Hari Guru. Kenapa begitu? Karena  ada satu hal yang juga membuat gue merasa menjadi manusia yang dibutuhkan dan dihargai. Hahah lebay, ya!

    Begini ceritanya, beberapa bulan ke belakang gue jadi pengajar privat seorang anak kelas 2 SMP. Sebut saja  nama anak ini Fulan. Si Fulan ini sudah tidak lagi sekolah di sekolah formal alias sekarang dia home schooling aja. Hanya satu kali dalam seminggu gue ngajarin dia berbagai mata pelajaran yang biasanya diajarin di sekolah. Si Fulan ini anaknya pemalu dan jarang ngomong, tapi sikapnya manis banget! Setiap gue datang ngajar, dia pasti selalu bikinin teh. Iya, dia yang bikin sendiri! Walaupun rasanya agak-agak pahit gimana gitu, tapi gak apa-apa, sikapnya dia udah manis banget! Hahah... Waktu itu pernah gue ngajar ketika puasa dan dia sudah membuatkan teh seperti biasanya. Gue terlambat bilang kalau hari ini sedang puasa, jadi tehnya sudah tersedia di meja. Akhirnya, dengan sangat tidak enak gue mohon maaf tidak minum tehnya karena sedang puasa.
    Bukan cuma itu aja, setiap pulang, Si Fulan pasti yang membuka dan menutup gerbang dan selalu ngucapin, "Hati-hati di jalan ya, kak!".

    Lalu, ketika Hari Guru kemarin, gue tidak menyangka kalau dia mengucapkannya langsung ke gue. Dia bilang, "Selamat Hari Guru ya, kak!" sambil menyalami tangan gue dan memberikan bingkisan. Siapa yang gak meleleh coba hatinya. Terharu banget! Rasanya gak bisa berkata-kata. Ini salah satu isi bingkisannya.
    Dan, gue baru sadar kalau yang karton biru itu ternyata ada isinya. Apa itu? Yap, surat! Tulisan tangan dia sendiri.
    Sebenarnya, ini bukan perkara benda yang dia berikan. Tapi, niat tulus dia untuk memberikan ucapan yang membuat gue merasa jadi orang yang dihargai dan dibutuhkan. Seringkali rasa lelah muncul tiap menghadapi sikap Si Fulan yang kelihatan tidak mood kalau lagi belajar. Tapi, lelah rasanya terbayar tiap dia mengerti dan memahami materi yang sedang diajarkan. Ternyata, sebenarnya dia memperhatikan! Mungkin hal ini juga yang dirasakan oleh guru-guru di luar sana. Rasanya terharu menyaksikan murid-murid yang diajarkan bertambah satu pengetahuan baru tiap harinya. Dan, memahami apa yang diajarkan. Terima kasih Fulan, kamu telah mengajarkan aku pentingnya apresiasi. Mulai dari hal-hal kecil, seperti memberikan ucapan terima kasih dan ucapan "Hati-hati di jalan". Juga, melalui tindakan sederhana. Sesederhana membuatkan teh hangat, misalnya. You are the best teacher, too! 


    Intinya, terima kasih, dan...
    Selamat Hari Guru untuk para guru yang mengajar di sekolah maupun guru kehidupan. 
    Tanpamu, apa jadinya aku.

    Depok, 25 November 2019.

    Continue Reading

    Sumber: doc. pribadi

    Tahun ini, Andrea Hirata kembali menerbitkan novelnya. Kali ini, novel yang diterbitkan berjudul Orang-orang Biasa. Ketika pertama kali lihat novel barunya Andrea Hirata ini, gue langsung tertarik buat baca, ditambah lagi warna cover novelnya yang eye catching membuat gue tidak hanya tertarik untuk baca, tapi juga tertarik untuk memilikinya. 
    Yup! Meskipun judulnya orang-orang biasa, tapi cerita dan tokoh-tokoh yang ditulis sama Andrea di novel ini sama sekali tidak biasa. Andrea menceritakan 10 orang sahabat yang berteman sejak SMA, yaitu Salud, Junilah, Sobri, Honorun, Tohirin, Rusip, Nihe, Handai, Dinah, dan Debut. Kesepuluh orang itu masing-masing punya karakter yang unik. Unik, sekaligus memperihatinkan! Mereka dipertemukan di SMA dalam satu kelas yang sama atas dasar kesamaan nasib, yaitu sama-sama bebal dalam pelajaran sekaligus selalu jadi korban perundungan. 
    Kecuali Debut, semuanya merupakan penghuni bangku paling belakang yang juga selalu terbelakang dalam masalah pelajaran. Namun, tiada angin tiada pula hujan, Debut mengajukan dirinya untuk bisa duduk di bangku belakang bersama Salud dkk.. Setelah itu, Debut menyatakan diri atas persetujuan diri sendiri sebagai pemimpin sepuluh sekawan tersebut. 
    Sayangnya, sepuluh sekawan tersebut tidak menyelesaikan sekolah sampai lulus. Masing-masing punya alasan atas ketikdaklulusan mereka, ada yang berhenti sekolah karena biaya, ada pula yang sudah tidak sanggup lagi mengikuti pelajaran sehingga diminta berhenti secara baik-baik oleh pihak sekolah. Selepas keluar dari sekolah, mereka bekerja dan hidup masing-masing.
    Bertahun-tahun berlalu, akhirnya sepuluh sekawanan penghuni bangku belakang bertemu kembali atas dasar tujuan yang sama. Membantu Aini kuliah di Fakultas Kedokteran! Aini adalah anak pertama Dinah. Awalnya, sembilan sahabat Dinah tidak percaya dengan kabar tersebut. Mereka tidak menyangka bahwa anak dari salah satu orang terbebal dalam pelajaran di sekolah diterima di Fakultas Kedokteran univeritas ternama. Sayangnya, langkah Aini untuk berkuliah harus terjegal karena masalah ekonomi.
    Dinah dan Aini sebetulnya sudah berusaha mencari pinjaman uang, namun tidak berhasil karena tidak memiliki jaminan. Pekerjaan Dinah hanyalah sebagai pedagang kaki lima. Dinah juga harus menghidupi anak-anaknya seorang diri karena suaminya sudah lebih dulu menghadap ilahi. 
    Tidak ingin cita-cita Aini pupus, sepuluh sekawan tersebut merencanakan perampokan bank demi mendapatkan uang karena mereka pun sebetulnya hidup serba kekurangan. Oleh karena itu, satu-satunya cara yang bisa mereka lakukan adalah merampok!
    Sebagai pemimpin dalam rencana perampokan itu, Debut mengeluarkan sebuah petuah di saat Dinah ragu dan pesimis akan keberhasilan rencana mereka.
    “Tangkap! Tangkaplah orang miskin yang berjuang agar anaknya bisa sekolah! Kita ini bukan merampok, Dinah! Kita ini melawan ketidakadilan! Tengoklah banyaknya anak-anak pintar miskin yang tidak dipedulikan Pemerintah! Tengoklah jurusan tertentu hanya dapat dimasuki orang-orang kaya! Tengoklah langkanya anak-anak orang-orang miskin jadi dokter! Mendaftar ke fakultas itu saja mereka tak berani! Padahal, kecerdasan mereka siap diadu! Ilmu hendaklah hanya tunduk pada kecerdasan, bukan pada kekayaan!” (Hirata, 2019: 117)
    Dari kutipan di atas kita bisa melihat pesan yang disampaikan dalam novel ini, yaitu kesenjangan antara si miskin dan si kaya dalam memperoleh pendidikan. Hal tersebut bukan masalah baru karena banyak terjadi di sekeliling kita. Dalam bagian pendahuluan di novel ini juga disebutkan latar belakang Andrea Hirata menulis cerita ini, yaitu kekecewaan Andrea akan kegagalannya memperjuangkan seorang anak miskin yang pintar untuk masuk Fakultas Kedokteran Universitas Bengkulu.
    Andrea memang sering menceritakan masalah dunia pendidikan dan kemiskinan dalam karya-karyanya. Selain Orang-orang Biasa, ada pula novel laskar pelangi yang juga bertema sama. Tokoh-tokoh dalam kedua novel tersebut harus berjuang untuk menghidupkan mimpinya di tengah ketidakstabilan ekonomi. Di novel Orang-orang biasa, pada awalnya Aini adalah anak yang bebal dalam pelajaran sebagaimana Dinah, ibunya. Baginya, sekolah hanya sekadar fomalitas. Sampai akhirnya Aini punya cita-cita. Cita-citanya itulah yang menjadikan Aini giat belajar. 
    Andrea juga masih menyebut nama Kota Belantik sebagai latar kisah di novel ini seperti dalam novel-novel Andrea lainnya. Entah, Kota Belantik itu memang benar adanya atau hanya buatan. Menariknya dari novel ini adalah penyebutan nama-nama tokohnya. Andrea selalu punya ide tidak terduga dalam memberikan nama untuk tokoh-tokohnya. Selain itu, banyak adegan lucu yang juga membuat novel ini menjadi semakin menarik. Misalnya, Sobri yang menggertak pengunjung bank dengan pantun sebelum memulai merampok.

    PAM MARAH, KITA TAK MANDI!
    PLN MARAH, LAMPU GELAP!
    INILAH SAAT YANG DINANTI-NANTI!
    PERAMPOK DATANG, SEMUA TIARAP!!!
    (Hirata, 2019: 184)

    Bisa-bisaan , ya, sebelum merampok dia pantun dulu! wkwk
    Kalau biasanya, penulis membuat tokoh dengan karakter yang sempurna. Andrea justru kebalikannya. Tokoh-tokohnya diceritakan hidup memperihatinkan. Uang tak punya dan nasib baik pun selalu tidak berpihak pada tokoh-tokohnya. Mungkin Andrea ingin menyampaikan bahwa setiap manusia memang tidak sempurna, tapi selalu ada hal baik yang dimilikinya. Misalnya, di novel Orang-orang Biasa ini, meski sepuluh sekawan tersebut tidak punya hal yang dibanggakan dalam hidup, setidaknya mereka masih punya niat baik untuk mewujudkan mimpi seorang anak agar bisa kuliah di Fakultas Kedokteran!
    Kira-kira berhasil gak yah perampokkannya dan berhasilkah Aini kuliah di Fakultas Kedokteran? Silakan simak sendiri dan ikuti kelanjutan kisahnya di Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata!
    Mari kita akhiri tulisan ini dengan pantun kilat,

    Kampung Babelan ada di Kabupaten Bekasi
    Cukup sekian dan terima kasih!
    Hehe

    Sumber
    Hirata, Andrea. 2019. Orang-Orang Biasa. Yogyakarta: Bentang Pustaka.

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Follow me

    • facebook
    • google+
    • tumblr
    • instagram
    • youtube

    Blog Archive

    • Mei 2023 (1)
    • April 2023 (2)
    • September 2021 (1)
    • Juli 2021 (1)
    • Februari 2021 (1)
    • Januari 2021 (3)
    • September 2020 (1)
    • Maret 2020 (1)
    • Desember 2019 (1)
    • November 2019 (2)
    • Oktober 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Februari 2019 (1)
    • November 2018 (1)
    • Maret 2017 (1)
    • Februari 2016 (3)
    • Januari 2016 (2)
    • September 2015 (1)
    • Maret 2015 (3)
    • Januari 2015 (1)
    • Oktober 2014 (4)
    • Juli 2014 (2)
    • Juni 2014 (1)

    Labels

    Cerita Hari Ini Tutorial Ulasan Buku Ulasan Film Ulasan Novel

    Member of

    Member of

    About Me

    Foto saya
    Siti Aliyah
    Seorang penafsir mimpi yang sedang menghidupi mimpi-mimpinya di dunia nyata.
    Lihat profil lengkapku
    facebook Twitter instagram google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top