Orang-Orang Biasa: Masalah Klasik Dunia Pendidikan
Minggu, November 24, 2019![]() |
| Sumber: doc. pribadi |
Tahun ini, Andrea Hirata kembali menerbitkan novelnya. Kali ini, novel yang diterbitkan berjudul Orang-orang Biasa. Ketika pertama kali lihat novel barunya Andrea Hirata ini, gue langsung tertarik buat baca, ditambah lagi warna cover novelnya yang eye catching membuat gue tidak hanya tertarik untuk baca, tapi juga tertarik untuk memilikinya.
Yup! Meskipun judulnya orang-orang biasa, tapi cerita dan tokoh-tokoh yang ditulis sama Andrea di novel ini sama sekali tidak biasa. Andrea menceritakan 10 orang sahabat yang berteman sejak SMA, yaitu Salud, Junilah, Sobri, Honorun, Tohirin, Rusip, Nihe, Handai, Dinah, dan Debut. Kesepuluh orang itu masing-masing punya karakter yang unik. Unik, sekaligus memperihatinkan! Mereka dipertemukan di SMA dalam satu kelas yang sama atas dasar kesamaan nasib, yaitu sama-sama bebal dalam pelajaran sekaligus selalu jadi korban perundungan.
Kecuali Debut, semuanya merupakan penghuni bangku paling belakang yang juga selalu terbelakang dalam masalah pelajaran. Namun, tiada angin tiada pula hujan, Debut mengajukan dirinya untuk bisa duduk di bangku belakang bersama Salud dkk.. Setelah itu, Debut menyatakan diri atas persetujuan diri sendiri sebagai pemimpin sepuluh sekawan tersebut.
Sayangnya, sepuluh sekawan tersebut tidak menyelesaikan sekolah sampai lulus. Masing-masing punya alasan atas ketikdaklulusan mereka, ada yang berhenti sekolah karena biaya, ada pula yang sudah tidak sanggup lagi mengikuti pelajaran sehingga diminta berhenti secara baik-baik oleh pihak sekolah. Selepas keluar dari sekolah, mereka bekerja dan hidup masing-masing.
Bertahun-tahun berlalu, akhirnya sepuluh sekawanan penghuni bangku belakang bertemu kembali atas dasar tujuan yang sama. Membantu Aini kuliah di Fakultas Kedokteran! Aini adalah anak pertama Dinah. Awalnya, sembilan sahabat Dinah tidak percaya dengan kabar tersebut. Mereka tidak menyangka bahwa anak dari salah satu orang terbebal dalam pelajaran di sekolah diterima di Fakultas Kedokteran univeritas ternama. Sayangnya, langkah Aini untuk berkuliah harus terjegal karena masalah ekonomi.
Dinah dan Aini sebetulnya sudah berusaha mencari pinjaman uang, namun tidak berhasil karena tidak memiliki jaminan. Pekerjaan Dinah hanyalah sebagai pedagang kaki lima. Dinah juga harus menghidupi anak-anaknya seorang diri karena suaminya sudah lebih dulu menghadap ilahi.
Tidak ingin cita-cita Aini pupus, sepuluh sekawan tersebut merencanakan perampokan bank demi mendapatkan uang karena mereka pun sebetulnya hidup serba kekurangan. Oleh karena itu, satu-satunya cara yang bisa mereka lakukan adalah merampok!
Sebagai pemimpin dalam rencana perampokan itu, Debut mengeluarkan sebuah petuah di saat Dinah ragu dan pesimis akan keberhasilan rencana mereka.
“Tangkap! Tangkaplah orang miskin yang berjuang agar anaknya bisa sekolah! Kita ini bukan merampok, Dinah! Kita ini melawan ketidakadilan! Tengoklah banyaknya anak-anak pintar miskin yang tidak dipedulikan Pemerintah! Tengoklah jurusan tertentu hanya dapat dimasuki orang-orang kaya! Tengoklah langkanya anak-anak orang-orang miskin jadi dokter! Mendaftar ke fakultas itu saja mereka tak berani! Padahal, kecerdasan mereka siap diadu! Ilmu hendaklah hanya tunduk pada kecerdasan, bukan pada kekayaan!” (Hirata, 2019: 117)
Dari kutipan di atas kita bisa melihat pesan yang disampaikan dalam novel ini, yaitu kesenjangan antara si miskin dan si kaya dalam memperoleh pendidikan. Hal tersebut bukan masalah baru karena banyak terjadi di sekeliling kita. Dalam bagian pendahuluan di novel ini juga disebutkan latar belakang Andrea Hirata menulis cerita ini, yaitu kekecewaan Andrea akan kegagalannya memperjuangkan seorang anak miskin yang pintar untuk masuk Fakultas Kedokteran Universitas Bengkulu.
Andrea memang sering menceritakan masalah dunia pendidikan dan kemiskinan dalam karya-karyanya. Selain Orang-orang Biasa, ada pula novel laskar pelangi yang juga bertema sama. Tokoh-tokoh dalam kedua novel tersebut harus berjuang untuk menghidupkan mimpinya di tengah ketidakstabilan ekonomi. Di novel Orang-orang biasa, pada awalnya Aini adalah anak yang bebal dalam pelajaran sebagaimana Dinah, ibunya. Baginya, sekolah hanya sekadar fomalitas. Sampai akhirnya Aini punya cita-cita. Cita-citanya itulah yang menjadikan Aini giat belajar.
Andrea juga masih menyebut nama Kota Belantik sebagai latar kisah di novel ini seperti dalam novel-novel Andrea lainnya. Entah, Kota Belantik itu memang benar adanya atau hanya buatan. Menariknya dari novel ini adalah penyebutan nama-nama tokohnya. Andrea selalu punya ide tidak terduga dalam memberikan nama untuk tokoh-tokohnya. Selain itu, banyak adegan lucu yang juga membuat novel ini menjadi semakin menarik. Misalnya, Sobri yang menggertak pengunjung bank dengan pantun sebelum memulai merampok.
PAM MARAH, KITA TAK MANDI!
PLN MARAH, LAMPU GELAP!
INILAH SAAT YANG DINANTI-NANTI!
PERAMPOK DATANG, SEMUA TIARAP!!!
(Hirata, 2019: 184)
Bisa-bisaan , ya, sebelum merampok dia pantun dulu! wkwk
PAM MARAH, KITA TAK MANDI!
PLN MARAH, LAMPU GELAP!
INILAH SAAT YANG DINANTI-NANTI!
PERAMPOK DATANG, SEMUA TIARAP!!!
(Hirata, 2019: 184)
Bisa-bisaan , ya, sebelum merampok dia pantun dulu! wkwk
Kalau biasanya, penulis membuat tokoh dengan karakter yang sempurna. Andrea justru kebalikannya. Tokoh-tokohnya diceritakan hidup memperihatinkan. Uang tak punya dan nasib baik pun selalu tidak berpihak pada tokoh-tokohnya. Mungkin Andrea ingin menyampaikan bahwa setiap manusia memang tidak sempurna, tapi selalu ada hal baik yang dimilikinya. Misalnya, di novel Orang-orang Biasa ini, meski sepuluh sekawan tersebut tidak punya hal yang dibanggakan dalam hidup, setidaknya mereka masih punya niat baik untuk mewujudkan mimpi seorang anak agar bisa kuliah di Fakultas Kedokteran!
Kira-kira berhasil gak yah perampokkannya dan berhasilkah Aini kuliah di Fakultas Kedokteran? Silakan simak sendiri dan ikuti kelanjutan kisahnya di Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata!
Mari kita akhiri tulisan ini dengan pantun kilat,
Kampung Babelan ada di Kabupaten Bekasi
Cukup sekian dan terima kasih!
Hehe
Sumber
Hirata, Andrea. 2019. Orang-Orang Biasa. Yogyakarta: Bentang Pustaka.


0 comments