facebook twitter Tumblr Instagram youtube linkedin

Metamorfosis

    • Beranda
    • Cerita Hari Ini
    • Ulasan Buku
    • Ulasan Film
    • _Film Korea
    • _Film Indonesia
    • _Film Thailand
    • Tutorial


    Hari itu, hujan sedang turun dengan deras-derasnya dan hari sudah menjelang Isya. Gue memang selalu malas kalau pakai jas hujan, jadi gue biarkan diri gue kebasahan. Gue pacu motor lebih kencang, biar sampai asrama lebih cepat. Di saat itu, gue gak sadar kalau barang yang teramat penting itu jatuh di jalan. Iya, dompet berisi kartu-kartu penting dan uang untuk hidup beberapa hari ke depan.

    Sampai asrama, gue buru-buru ganti baju dan siap-siap buat ikut kajian Jumat Malam. Kajiannya selesai sekitar pukul 10 lewat, dan saat itu gue masih belum sadar kalau dompet gue jatuh. Barulah, ketika temen gue meminta kembalian uang, gue berusaha mengingat-ingat di mana terakhir kali menggunakan dompet itu. Setelah perenungan beberapa saat, gue berhasil menemukan puzzle-puzzle ingatan tentang dompet itu. Pertama, ketika belanja di toko. Kedua, dompet itu bisa jatuh di jalan. Untuk kemungkinan pertama, gue masih bisa berharap kalau dompetnya disimpan oleh penjaga toko. Tapi, kalau ternyata kemungkinan kedua yang terjadi, gue cuma bisa pasrah dan berdoa semoga kalau rezeki masih bisa kembali. 

    Allah ternyata memang Mahabaik! Ketika gue cek handphone, ternyata sudah ada dua orang yang menghubungi gue terkait dompet itu. Dua orang itu adalah temen sejurusan dan adik tingkat. Dua-duanya dihubungi oleh orang lain, yang sudah lebih dulu dihubungi sama si penemu dompet gue. Penemu dompet gue itu baik banget. Saking baiknya, gue gak nyangka masih ada orang seperti dia. Bayangin, dia berusaha cari pemilik dompet yang dia temuin dengan berbagai cara. Di dompet itu ada kartu mahasiswa gue yang di kartu itu ada nomor induk mahasiswa. Kemungkinan, dia cari nomor induk gue di internet dan menemukan kalau gue ini mahasiswa jurusan Sastra Indonesia. Lalu, dia berusaha mencari narahubung yang berkaitan dengan jurusan Sastra Indonesia. Entahlah, sudah berapa banyak orang yang dia hubungi sampai akhirnya gue dihubungi oleh temen dan adik tingkat di jurusan.

    Ternyata, masih ada orang baik. Padahal, dia bisa aja hubungin pemilik dompet itu besok atau langsung hubungi pihak kampus buat ngembaliin dompet. Dia gak perlu tuh susah-susah hubungi orang lain. Bahkan, bisa aja dia simpan sendiri dompetnya. Toh, gak ada yang tahu. Tapi, dia justu berusaha mencari pemilik dompetnya saat itu juga. Bahkan, sampai malam, dia nungguin gue buat ambil dompetnya. Mungkin, dia berpikir si pemilik dompetnya bakalan kelimpungan nyariin dompet itu, jadi dia harus segera mencari. Gue nggak bisa ngomong apa-apa ke penemu dompet gue itu, selain ucapan terima kasih banyak. Habis itu, gue izin pamit dan kembali ke asrama lagi.

    Hari itu, gue mendapat satu pembelajaran baru, yaitu untuk terus berbuat baik dan jangan menunda untuk melakukan hal-hal baik. Terima kasih penemu dompetku! Mungkin, kalau gak dihubungi malam itu juga, gue udah panik-panik ajaib memikirkan nasib kartu-kartu dan hidup selama beberapa hari ke depan. Dan, lagi-lagi rencana Allah dan rahasia-Nya selalu membuat gue takjub! Coba bayangin, di antara banyaknya manusia di muka bumi ini, Allah pilihkan orang yang menemukan dompet gue itu adalah orang yang baik dan amanah. Semoga Si Penemu Dompet senantiasa berada dalam lindungan Allah dan kebaikannya diganjarkan pahala. Amin!

    Kejadian kayak gini sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Gue juga pernah dua kali kehilangan handphone dan alhamdulillah, handphone itu masih ada sampai sekarang. Pertama, kehilangan ketika gue di perpustakaan. Sebenarnya, itu keteledoran gue sih. Gue gak sengaja ninggalan handphone di sofa depan ruang perpustakaan. Untungnya, handphone itu ditemuin sama orang baik. Dia menitipkan handphone gue ke satpam. Gue pun baru sadar kalau handphone gue gak ada ketika sudah sampai asrama. Firasat gue saat itu, handphone gue ketinggalan di perpustakaan kerena yang terkahir gue ingat, gue masih pegang handphone itu ketika ngobrol dengan teman di sana. Habis ngobrol, gue gak sadar kalau handphone-nya masih di sofa. Akhirnya, gue kembali lagi ke perpustakaan dan inisiatif buat nanya pengunjung yang duduk di tempat gue sebelumnya. Dan, ya.. hanphone gue ada yang nemuin dan disimpan di satpam.

    Masih handphone yang sama. Kali ini hilang di tempat les. Gue baru sadar ketika sudah di stasiun. Kayaknya, kehilangan ini yang paling bikin panik. Pikiran gue kacau. Banyak terlintas di pikiran mengenai kemungkinan di mana hanphone itu hilang. Kemungkinan paling buruk, dicopet! Sampailah gue di rumah kos temen, tempat gue menitipkan motor. Dia lalu bilang kalau handphone gue ketinggalan di tempat les! Saat itu juga, rasanya mau menangis sekaligus lega. Ternyata, handphone gue ketinggalan di ruang kelas dan yang menemukan adalah guru les gue. Gue les gue itu menghubungi teman-teman dan keluarga gue lewat handphone itu.

    Dari kehilang-kehilangan itu, sebenarnya pangkal dari semua yang terjadi adalah keteledoran diri gue! Oleh karena itu, gue memang harus lebih hati-hati lagi dalam menjaga sesuatu. Jangan lupa juga untuk tetap tenang dan berpikiran positif karena semakin kita berpikiran yang buruk membuat hati menjadi grasak-grusuk dan sulit berpikir positif. Nah, hal-hal yang kayak gini nih membuat pikiran jadi buntu sehingga gak bisa menemukan jalan keluar. Jadi, tetap tenang dan think positive!

    Satu lagi, jangan lupa bersyukur!

    Hari menjelang larut, 29 November 2019.
    Continue Reading
    Tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Tahun ini, tepat hari Senin lalu merupakan Hari Guru Nasional. Di hari itu, ramai orang-orang mengucapkan selamat dan terima kasih kepada guru-guru yang telah mendidiknya. Banyak juga sekolah-sekolah yang mengadakan perayaan untuk memeriahkan Hari Guru Nasional. Gue pikir, ucapan-ucapan selamat hari guru hanya ditujukan bagi mereka yang mengajar di sekolah. Iya, guru-guru yang secara formal mengajar dari pagi sampai sore hari. Tapi, pandangan gue akhirnya berubah mengenai konsep Hari Guru. Kenapa begitu? Karena  ada satu hal yang juga membuat gue merasa menjadi manusia yang dibutuhkan dan dihargai. Hahah lebay, ya!

    Begini ceritanya, beberapa bulan ke belakang gue jadi pengajar privat seorang anak kelas 2 SMP. Sebut saja  nama anak ini Fulan. Si Fulan ini sudah tidak lagi sekolah di sekolah formal alias sekarang dia home schooling aja. Hanya satu kali dalam seminggu gue ngajarin dia berbagai mata pelajaran yang biasanya diajarin di sekolah. Si Fulan ini anaknya pemalu dan jarang ngomong, tapi sikapnya manis banget! Setiap gue datang ngajar, dia pasti selalu bikinin teh. Iya, dia yang bikin sendiri! Walaupun rasanya agak-agak pahit gimana gitu, tapi gak apa-apa, sikapnya dia udah manis banget! Hahah... Waktu itu pernah gue ngajar ketika puasa dan dia sudah membuatkan teh seperti biasanya. Gue terlambat bilang kalau hari ini sedang puasa, jadi tehnya sudah tersedia di meja. Akhirnya, dengan sangat tidak enak gue mohon maaf tidak minum tehnya karena sedang puasa.
    Bukan cuma itu aja, setiap pulang, Si Fulan pasti yang membuka dan menutup gerbang dan selalu ngucapin, "Hati-hati di jalan ya, kak!".

    Lalu, ketika Hari Guru kemarin, gue tidak menyangka kalau dia mengucapkannya langsung ke gue. Dia bilang, "Selamat Hari Guru ya, kak!" sambil menyalami tangan gue dan memberikan bingkisan. Siapa yang gak meleleh coba hatinya. Terharu banget! Rasanya gak bisa berkata-kata. Ini salah satu isi bingkisannya.
    Dan, gue baru sadar kalau yang karton biru itu ternyata ada isinya. Apa itu? Yap, surat! Tulisan tangan dia sendiri.
    Sebenarnya, ini bukan perkara benda yang dia berikan. Tapi, niat tulus dia untuk memberikan ucapan yang membuat gue merasa jadi orang yang dihargai dan dibutuhkan. Seringkali rasa lelah muncul tiap menghadapi sikap Si Fulan yang kelihatan tidak mood kalau lagi belajar. Tapi, lelah rasanya terbayar tiap dia mengerti dan memahami materi yang sedang diajarkan. Ternyata, sebenarnya dia memperhatikan! Mungkin hal ini juga yang dirasakan oleh guru-guru di luar sana. Rasanya terharu menyaksikan murid-murid yang diajarkan bertambah satu pengetahuan baru tiap harinya. Dan, memahami apa yang diajarkan. Terima kasih Fulan, kamu telah mengajarkan aku pentingnya apresiasi. Mulai dari hal-hal kecil, seperti memberikan ucapan terima kasih dan ucapan "Hati-hati di jalan". Juga, melalui tindakan sederhana. Sesederhana membuatkan teh hangat, misalnya. You are the best teacher, too! 


    Intinya, terima kasih, dan...
    Selamat Hari Guru untuk para guru yang mengajar di sekolah maupun guru kehidupan. 
    Tanpamu, apa jadinya aku.

    Depok, 25 November 2019.

    Continue Reading

    Sumber: doc. pribadi

    Tahun ini, Andrea Hirata kembali menerbitkan novelnya. Kali ini, novel yang diterbitkan berjudul Orang-orang Biasa. Ketika pertama kali lihat novel barunya Andrea Hirata ini, gue langsung tertarik buat baca, ditambah lagi warna cover novelnya yang eye catching membuat gue tidak hanya tertarik untuk baca, tapi juga tertarik untuk memilikinya. 
    Yup! Meskipun judulnya orang-orang biasa, tapi cerita dan tokoh-tokoh yang ditulis sama Andrea di novel ini sama sekali tidak biasa. Andrea menceritakan 10 orang sahabat yang berteman sejak SMA, yaitu Salud, Junilah, Sobri, Honorun, Tohirin, Rusip, Nihe, Handai, Dinah, dan Debut. Kesepuluh orang itu masing-masing punya karakter yang unik. Unik, sekaligus memperihatinkan! Mereka dipertemukan di SMA dalam satu kelas yang sama atas dasar kesamaan nasib, yaitu sama-sama bebal dalam pelajaran sekaligus selalu jadi korban perundungan. 
    Kecuali Debut, semuanya merupakan penghuni bangku paling belakang yang juga selalu terbelakang dalam masalah pelajaran. Namun, tiada angin tiada pula hujan, Debut mengajukan dirinya untuk bisa duduk di bangku belakang bersama Salud dkk.. Setelah itu, Debut menyatakan diri atas persetujuan diri sendiri sebagai pemimpin sepuluh sekawan tersebut. 
    Sayangnya, sepuluh sekawan tersebut tidak menyelesaikan sekolah sampai lulus. Masing-masing punya alasan atas ketikdaklulusan mereka, ada yang berhenti sekolah karena biaya, ada pula yang sudah tidak sanggup lagi mengikuti pelajaran sehingga diminta berhenti secara baik-baik oleh pihak sekolah. Selepas keluar dari sekolah, mereka bekerja dan hidup masing-masing.
    Bertahun-tahun berlalu, akhirnya sepuluh sekawanan penghuni bangku belakang bertemu kembali atas dasar tujuan yang sama. Membantu Aini kuliah di Fakultas Kedokteran! Aini adalah anak pertama Dinah. Awalnya, sembilan sahabat Dinah tidak percaya dengan kabar tersebut. Mereka tidak menyangka bahwa anak dari salah satu orang terbebal dalam pelajaran di sekolah diterima di Fakultas Kedokteran univeritas ternama. Sayangnya, langkah Aini untuk berkuliah harus terjegal karena masalah ekonomi.
    Dinah dan Aini sebetulnya sudah berusaha mencari pinjaman uang, namun tidak berhasil karena tidak memiliki jaminan. Pekerjaan Dinah hanyalah sebagai pedagang kaki lima. Dinah juga harus menghidupi anak-anaknya seorang diri karena suaminya sudah lebih dulu menghadap ilahi. 
    Tidak ingin cita-cita Aini pupus, sepuluh sekawan tersebut merencanakan perampokan bank demi mendapatkan uang karena mereka pun sebetulnya hidup serba kekurangan. Oleh karena itu, satu-satunya cara yang bisa mereka lakukan adalah merampok!
    Sebagai pemimpin dalam rencana perampokan itu, Debut mengeluarkan sebuah petuah di saat Dinah ragu dan pesimis akan keberhasilan rencana mereka.
    “Tangkap! Tangkaplah orang miskin yang berjuang agar anaknya bisa sekolah! Kita ini bukan merampok, Dinah! Kita ini melawan ketidakadilan! Tengoklah banyaknya anak-anak pintar miskin yang tidak dipedulikan Pemerintah! Tengoklah jurusan tertentu hanya dapat dimasuki orang-orang kaya! Tengoklah langkanya anak-anak orang-orang miskin jadi dokter! Mendaftar ke fakultas itu saja mereka tak berani! Padahal, kecerdasan mereka siap diadu! Ilmu hendaklah hanya tunduk pada kecerdasan, bukan pada kekayaan!” (Hirata, 2019: 117)
    Dari kutipan di atas kita bisa melihat pesan yang disampaikan dalam novel ini, yaitu kesenjangan antara si miskin dan si kaya dalam memperoleh pendidikan. Hal tersebut bukan masalah baru karena banyak terjadi di sekeliling kita. Dalam bagian pendahuluan di novel ini juga disebutkan latar belakang Andrea Hirata menulis cerita ini, yaitu kekecewaan Andrea akan kegagalannya memperjuangkan seorang anak miskin yang pintar untuk masuk Fakultas Kedokteran Universitas Bengkulu.
    Andrea memang sering menceritakan masalah dunia pendidikan dan kemiskinan dalam karya-karyanya. Selain Orang-orang Biasa, ada pula novel laskar pelangi yang juga bertema sama. Tokoh-tokoh dalam kedua novel tersebut harus berjuang untuk menghidupkan mimpinya di tengah ketidakstabilan ekonomi. Di novel Orang-orang biasa, pada awalnya Aini adalah anak yang bebal dalam pelajaran sebagaimana Dinah, ibunya. Baginya, sekolah hanya sekadar fomalitas. Sampai akhirnya Aini punya cita-cita. Cita-citanya itulah yang menjadikan Aini giat belajar. 
    Andrea juga masih menyebut nama Kota Belantik sebagai latar kisah di novel ini seperti dalam novel-novel Andrea lainnya. Entah, Kota Belantik itu memang benar adanya atau hanya buatan. Menariknya dari novel ini adalah penyebutan nama-nama tokohnya. Andrea selalu punya ide tidak terduga dalam memberikan nama untuk tokoh-tokohnya. Selain itu, banyak adegan lucu yang juga membuat novel ini menjadi semakin menarik. Misalnya, Sobri yang menggertak pengunjung bank dengan pantun sebelum memulai merampok.

    PAM MARAH, KITA TAK MANDI!
    PLN MARAH, LAMPU GELAP!
    INILAH SAAT YANG DINANTI-NANTI!
    PERAMPOK DATANG, SEMUA TIARAP!!!
    (Hirata, 2019: 184)

    Bisa-bisaan , ya, sebelum merampok dia pantun dulu! wkwk
    Kalau biasanya, penulis membuat tokoh dengan karakter yang sempurna. Andrea justru kebalikannya. Tokoh-tokohnya diceritakan hidup memperihatinkan. Uang tak punya dan nasib baik pun selalu tidak berpihak pada tokoh-tokohnya. Mungkin Andrea ingin menyampaikan bahwa setiap manusia memang tidak sempurna, tapi selalu ada hal baik yang dimilikinya. Misalnya, di novel Orang-orang Biasa ini, meski sepuluh sekawan tersebut tidak punya hal yang dibanggakan dalam hidup, setidaknya mereka masih punya niat baik untuk mewujudkan mimpi seorang anak agar bisa kuliah di Fakultas Kedokteran!
    Kira-kira berhasil gak yah perampokkannya dan berhasilkah Aini kuliah di Fakultas Kedokteran? Silakan simak sendiri dan ikuti kelanjutan kisahnya di Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata!
    Mari kita akhiri tulisan ini dengan pantun kilat,

    Kampung Babelan ada di Kabupaten Bekasi
    Cukup sekian dan terima kasih!
    Hehe

    Sumber
    Hirata, Andrea. 2019. Orang-Orang Biasa. Yogyakarta: Bentang Pustaka.

    Continue Reading

    Beberapa hari lalu iseng cek mata karena kebetulan ada booth cek kesehatan mata gratis di perpustakaan kampus. Awalnya, gue merasa mata gue baik-baik aja. Apa yang dilihat ya seperti itu kenyataannya. Tapi,  ketika diperiksa ternyata ada masalah di mata. Gak cuma minus, ternyata silinder juga. Dan, apa yang gue lihat jauh terlihat lebih jernih ketika pakai kacamata.

    Lalu, tiba-tiba entah sugesti atau memang begitu adanya, gue tersadar kalau yang gue lihat burem dan berbayang di mata. Kepala juga agak-agak sakit beberapa hari ini. 

    Gak cuma itu aja sih. Ketika cari informasi seputar mata silinder di internet gue dapat satu informasi yang sedikit mengejutkan. Apa itu? Ternyata, salah satu dampak dari mata silinder itu mata jadi mudah mengantuk. Hmm.. gue jadi mikir apa mungkin selama ini kebiasaan tidur di mana aja itu karena mata yang silinder ini. Haha mulai deh ilmu cocokologinya. Tapi, bisa aja kan. Sejujurnya, gue memang gampang banget ngantuk. Tapi, apa iya sih karena mata silinder. Atau memang diri ini yang suka tidur. haha.

    Yaudah, sekian cerita random hari ini. Kira-kira perlu gak yah pakai kacamata? 
    Continue Reading


    Passion is not what you are good at. It’s what you enjoy the most.
    Rene Suhardono C

    Beberapa hari lalu ketika baca buku Azhar Nurun Ala yang judulnya Cinta adalah Perlawanan, gue gak sengaja nemu kutipan di atas. Dari kutipan itu, gue akhirrnya tahu kalau passion itu bukan sesuatu yang kita baik melakukannya, tetapi hal-hal yang ketika dilakukan membuat kita merasa senang dan nyaman. Sebenernya, kata passion itu punya padanan katanya dalam bahasa Indonesia, yaitu renjana. Gak tahu kenapa suka banget sama kata renjana. Jadi, untuk seterusnya gue akan menggunakan kata renjana menggantikan kata passion.

    Berbicara mengenai renjana, gue merasa baru-baru ini menemukan kegiatan yang ketika dilakuin membuat gue sangat senang. Sebenernya kegiatan itu udah dari lama gue lakuin, tapi gue baru sadar kalau ternyata gue sesenang itu melakukannya. Ada beberapa kegiatan yang membuat gue senang, pertama membuat kerajinan tangan dari flanel. Kegiatan itu sebenernya mulai gue lakuin lagi ketika semester lima atau enam, saat gue masih tinggal di Asrama Aceh. Di tempat itu, gue bertemu dengan seseorang yang juga punya hobi sama.

    Suatu hari, tiba-tiba tercetus ide untuk menjalankan usaha membuat bunga dari flanel yang dijual ketika ada acara wisudaan aja. Ketika itu, wisuda terdekat adalah wisuda di kampus gue. Akhirnya, dalam waktu yang singkat, gue dan temen gue itu membuat bunga beserta bouquet-nya. Dari pagi, gue dan dia sibuk merangkai bunga dan semuanya baru benar-benar selesai jam 3 pagi. Selama membuat dan merangkai bunga gak terasa lelah sedikit pun. Setelah selesai dan lihat jam, ternyata udah jam 3 pagi. Mungkin karena begitu menikmati kegiatan itu, sampai gak sadar kalau hari sudah berganti dan baru terasa lelahnya ketika semua udah selesai. Dan, di hari itu pula, gue beserta temen gue ini menjual bunga-bunga tersebut di acara wisuda kampus.

    Ketika menjual bunga itu, gue bahkan merasa aneh sama diri gue karena maunya senyum-senyum terus. Gak nyangka ternyata hasil kerja keras gue dan temen gue ini ada juga yang tertarik buat beli. Memang bener sih kata Pak Ridwan Kamil, pekerjaan yang paling menyenangkan itu adalah hobi yang dibayar. Dan itulah yang gue alami ketika membuat dan menjual bunga-bunga flanel. Gak habis pikir ternyata gue sesuka itu ngelakuinnya. Walaupun harus begadang, tapi kalau yang dilakuin adalah hal yang disenangi, rasanya gak masalah.
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Follow me

    • facebook
    • google+
    • tumblr
    • instagram
    • youtube

    Blog Archive

    • Mei 2023 (1)
    • April 2023 (2)
    • September 2021 (1)
    • Juli 2021 (1)
    • Februari 2021 (1)
    • Januari 2021 (3)
    • September 2020 (1)
    • Maret 2020 (1)
    • Desember 2019 (1)
    • November 2019 (2)
    • Oktober 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Februari 2019 (1)
    • November 2018 (1)
    • Maret 2017 (1)
    • Februari 2016 (3)
    • Januari 2016 (2)
    • September 2015 (1)
    • Maret 2015 (3)
    • Januari 2015 (1)
    • Oktober 2014 (4)
    • Juli 2014 (2)
    • Juni 2014 (1)

    Labels

    Cerita Hari Ini Tutorial Ulasan Buku Ulasan Film Ulasan Novel

    Member of

    Member of

    About Me

    Foto saya
    Siti Aliyah
    Seorang penafsir mimpi yang sedang menghidupi mimpi-mimpinya di dunia nyata.
    Lihat profil lengkapku
    facebook Twitter instagram google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top