facebook twitter Tumblr Instagram youtube linkedin

Metamorfosis

    • Beranda
    • Cerita Hari Ini
    • Ulasan Buku
    • Ulasan Film
    • _Film Korea
    • _Film Indonesia
    • _Film Thailand
    • Tutorial

    Selepas kegiatan outing class bersama adik-adik TPA Sahabat Quran, cerita berlanjut dengan kegiatan bersama komunitas Kembali ke Sekolah Project yang diadakan pada pertengahan Februari, tepatnya pada 15 Februari 2020. Di kegiatan ini, gue juga bertemu dan bermain bersama adik-adik lucu nan energik.

    Sesuai dengan nama komunitasnya, kegiatan yang diadakan adalah mengunjungi sebuah sekolah dan berbagi pengalaman mengenai berbagai profesi. Sekolah yang dikunjungi adalah SDN Pasirlancar 2  yang ada di Pandeglang, Banten. Kegiatan di sekolah tersebut diadakan hanya satu hari, tapi para relawan sudah berkumpul satu hari sebelumnya dan menginap di rumah salah seorang warga. Para relawan yang mengikuti kegiatan ini datang dari berbagai latar belakang pekerjaan, ada yang berprofesi sebagai guru, pekerja kantoran, dan ada juga mahasiswa seperti gue.

    Tujuan gue mengikuti kegiatan ini pada awalnya karena gue ingin mengunjungi lagi tempat yang pernah gue singgahi ketika program K2N tahun 2019 lalu. Walaupun tempat volunteer kali ini bukan di lokasi penempatan K2N, tapi setidaknya gue bisa sedikit melepas rindu dan kembali mengingat-ingat momen baik selama tinggal di Pandeglang. Satu lagi, gue bisa kembali bermain bersama adik-adik :)

    Kegiatan ini diadakan pada hari Sabtu, 15 Februari dan gue berangkat pada hari Jumat dari Depok menuju titik kumpul di daerah Serang, Banten. Sejak awal gue sudah menduga, perjalanan sebagai relawan kali ini akan menjadi cerita seru dan penuh kejutan. Benar saja, gue banyak mendapatkan kejutan dan cerita-cerita menarik sepanjang perjalanan. Mulai keberangkatan dari Depok hingga pulangnya ke rumah, di Bekasi.

    Perjalanan Panjang Menuju Titik Kumpul

    Berbekal info dari internet dan bertanya ke orang yang lebih tahu, gue berangkat dari Depok menuju Pandeglang menggunakan KRL (Kereta Rel Listrik). Katanya, nanti tinggal turun di stasiun Rangkasbitung, lalu disambung angkot dua kali. Sialnya, gua baru berangkat setengah 12 karena mengira kalau perjalanan menuju stasiun Rangkasbitung hanya akan memakan waktu selama 2 jam. Di KRL, gue sudah berulangkali ketiduran, tapi tetap tidak sampai-sampai juga. Gue tidak mengira kalau perjalanan menggunakan KRL dari Depok menuju Rangkasbitung bisa selama itu. 

    Setelah 4 jam perjalanan dari Depok, gue sampai juga di stasiun Rangkasbitung pada pukul 4 sore. Padahal, janjian di titik kumpulnya pukul 4. Kejutan lainnya lagi, perjalanan dari Rangkasbitung ke titik kumpul ternyata masih cukup jauh. Harusnya, gue naik angkot dua kali dari stasiun Rangkasbitung. Tapi karena waktu yang terbatas, gue memutuskan untuk naik ojek. Ojek pangkalan tepatnya, karena ojek online tidak bisa gue pesan, entah karena jaraknya yang terlalu jauh atau memang tidak ada ojek online di sekitar situ.

    Keluar dari stasiun, gue melihat ada ojek pangkalan. Tanpa pikir panjang, gue langsung pesan dan mengatakan lokasi tujuan ke abang ojeknya. Untuk ongkosnya, abang ojeknya bilang hanya 15 ribu. Lumayan murah, pikir gue. Berarti harusnya jaraknya gak jauh dong. Tapi karena curiga, gue pastiin lagi ke abangnya tentang alamat yang gue tuju. Dan benar aja, ternyata abangnya salah mengira dan ongkosnya jadi 10 kali lipat alias 150 ribu. Akhirnya, setelah tawar menawar yang cukup alot di atas motor yang terus berjalan, gue bisa bayar 120 ribu. Mahal sih memang untuk mahasiswa dengan uang terbatas kaya gue pada saat itu :") Tapi jaraknya memang jauh banget dan naik ojek adalah pilihan terbaik daripada gue harus naik angkot, yang entah kapan akan sampai.

    Di perjalanan, sempat ada adegan putar balik cari jalan lain karena ada razia. Untungnya, abang ojek sempat buat putar balik, karena si abang ojek ini memang tidak memberikan gue helm. Otomatis diberhentiin ini mah! 

    Setelah hampir 1 jam di atas motor, akhirnya sampai juga di titik kumpul, yaitu Untirta! Gak enak sebenarnya karena telat dan memberikan kesan buruk ketika pertama bertemu. Setelah tiba, ternyata masih harus menunggu lagi karena ada relawan yang masih dalam perjalanan. Sekitar pukul setengah enam, barulah kami semua berangkat ke Pandeglang menggunakan angkot yang sudah disewa.

    Berbagi Cerita Bersama Orang Baru

    Perjalanan dari titik kumpul menuju lokasi acara memakan waktu kurang lebih tiga jam. Perjalanan yang cukup panjang, bagi gue. Di angkot itu, gue bersama dengan beberapa relawan. Gue bersyukur bisa mengikuti kegiatan ini dan bertemu dengan mereka semua. Di perjalanan bersama mereka di angkot, kami membahas banyak hal. Gue jadi mendapat sedikit insight tentang ABK lewat cerita Ka Aini, yang memang pengajar SLB dan alumni Psikologi. Waktu perjalanan terasa singkat karena kami semua banyak bercerita dan kadang diselingi diam sambil melihat pemandangan di jalan. Walaupun baru kenal hari itu, kami tidak canggung untuk bercerita dan bercanda.

    Sekitar pukul 9 malam, akhirnya kami tiba di rumah salah seorang warga tempat kami menginap malam itu, yaitu rumah Pak Dayat. Ketika keluar dari angkot, gue langsung melihat pemandangan langit malam yang dipenuhi bintang. Masya Allah, jadi semakin rindu dengan suasana ketika K2N :") Di rumah itu, sudah tersedia beraneka makanan untuk mengisi ulang tenaga yang habis selama perjalanan tadi.

    The Day!

    Hari yang dinanti tiba. Kami semua sudah bersiap sejak pukul 4 dini hari. Setelah bersih-bersih, sarapan, dan briefing, berangkatlah kami sekitar pukul 06.30 ke SDN Pasirlancar 2. Kami menggunakan mobil losbak  dan melewati jalur persawahan. Saat itu, langitnya biru cerah dan selama di perjalanan, kami seru bercanda dan bercerita. Suasana kala itu sangat-sangat menentramkan, jauh dari sibuknya perkotaan.

    Setelah 30 menit perjalanan dengan jalan yang naik turun, tibalah kami di sekolah yang dituju dengan disambut oleh guru-guru dan adik-adik lucu yang langsung berbaris dan menyalami kami. Kondisi sekolah cukup memperihatinkan. Tembok retak parah, lantai yang ubinnya udah gak ada, dan entah kursi mencukupi siswa atau tidak. Ditambah lagi, kondisi lapangan yang becek karena tidak beraspal.

    Terlepas dari semua itu, gue senang bisa melihat anak-anak tertawa dan menikmati kegiatan pada hari itu. Semangat mereka untuk menuntut ilmu juga membuat gue ingin terus melakukan hal-hal yang bisa mengubah kondisi pendidikan yang memperihatinkan ini. 

    Masuk ke bagian kegiatan inti, yaitu kegiatan bermain sambil memperkenalkan beberapa profesi. Anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan kelasnya. Nantinya, mereka akan mengunjungi pos-pos yang sudah dibuat. Di pos-pos tersebut, mereka akan diperkenalkan dengan berbagai profesi, ada perawat, ilmuwan, dan ada beberapa lagi yang lain, tapi gue lupa. 

    Tugas gue di sana adalah mendampingi kelompok tersebut. Kami singgah di dua pos, yaitu pos perawat dan ilmuwan. Di pos perawat, anak-anak diajak memainkan permainan. Lalu, di pos ilmuwan anak-anak diperlihatkan percobaan membuat gunung merapi dari tanah liat. Meraka semua sangat antusias melihat dan membantu pembuatan gunung merapinya.



    Ada satu anak yang cukup menarik perhatian gue. Namanya Dini. Dia berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda yang kadang gak gue pahami. Dia terus memaksa gue bermain sama dia dengan berkata, "Hayu kak, main suput-suputan" seperti itulah kurang lebih. Dan, baru gue pahami ternyata suput-suputan adalah semacam permainan petak umpet. Sayang sekali, gue gak sempet foto dengan dia karena ketika acara selesai dia sudah tidak terlihat lagi dan gue gak sempat pamitan juga ke Dini.
    Hai, Dini! Semoga kita bisa ketemu lagi.

    Kegiatan di sekolah ditutup dengan pemberian donasi kepada pihak sekolah dan adik-adik semua. Selain bermain bersama adik-adik, sebenarnya ada kegiatan lain yang dilakukan oleh Komunitas Kembali ke Sekolah Project, yaitu workshop bersama orang tua murid dan guru.


    Setelah kegiatan di sekolah selesai, kami semua kembali ke rumah Pak Dayat. Lalu, bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing. Kami semua pulang menggunakan angkot yang sebelumnya sudah disewa. Di perjalanan, kami mampir sebentar untuk makan bakso. Dan di sanalah, beberapa relawan berpisah untuk melanjutkan menggunakan angkutan lainnya. Gue sendiri pulang bersama menggunakan mobil pribadi salah satu panitia dengan beberapa orang lainnya, yang salah satunya menemani gue pulang sampai Bekasi karena memang searah.

    Kenyataan yang Sulit Dipercaya!

    Setelah berlelah-lelah seharian berpetualang dan bermain, gue masih harus melanjutkan perjalanan pulang yang cukup jauh. Dimulai dengan naik angkot dari Pandeglang bersama teman-teman relawan lainnya, lalu naik mobil pribadi, hingga akhirnya berpisah karena gue harus melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju Bekasi.

    Di perjalanan pulang itu gue gak sendiri. Gue pulang bersama dengan Pak Rofii karena sama-sama tinggal di Bekasi. Kami menunggu bus menuju Bekasi cukup lama, sampai akhirnya muncul bus arah Bandung yang bisa kami tumpangi. Karena hari sudah mulai larut dan gue yang sudah tidak tahan kantuk, kami tidak banyak bicara selama perjalanan. Tapi sebelum gue ketiduran, gue sempat mendengarkan cerita-cerita keseruan Pak Rofii selama aktif di kegiatan relawan. Gue sangat salut dengan orang-orang yang meluangkan waktunya dengan kegiatan kerelawanan, terutama di bidang pendidikan. Dan meskipun Pak Rofii sudah berkeluarga, beliau masih aktif berkontribusi. Semoga gue juga bisa istiqomah di jalan tersebut :)

    Malam sudah semakin larut, dan bus yang ditumpangi sudah sampai di pemberhentian yang gue tuju, yaitu Tol Jatibening. Seharusnya, kami naik bus lagi. Namun, karena sudah pukul 11 malam dan tidak ada lagi bus menuju lokasi yang kami tuju, akhirnya kami memutuskan naik angkot. Dan, rupanya kami harus melompati pagar pembatas tol untuk bisa naik angkot tersebut. Wah, pengalaman pertama seperti ini. Mata masih setengah sadar sudah harus melakukan kegiatan ekstrim haha

    Lalu, gue dan Pak Pii harus berpisah di Bekasi Barat, sedangkan gue turun di Metropolitan Mall. Malam sudah semakin larut, dan gue tidak tahu harus pulang naik apa lagi. Hp sudah mati sehingga gue tidak bisa meminta jemput bahkan untuk pesan ojek online. Akhirnya, gue memutuskan untuk naik angkot lagi.

    Di angkot itu ada beberapa penumpang. Semuanya laki-laki. Kalau diingat-ingat lagi, kenapa ya gue berani banget pulang malem dengan kondisi yang gak mendukung kaya gitu. Di angkot itu, ada kakek-kakek yang langsung ngajakin ngobrol. Untung, dia gak bawa cangkul atau gayung, cuma bawa pete dua karung, jadi gue mau jawab pertanyaannya :D

    Dari obrolan yang ngalor-ngidul, terkuaklah kalau dia ternyata kenal sama Bapak gue. Waw, sebuah kebetulan yang tidak direncanakan! Mengapa dunia sesempit ini. 
    Lebih mengejutkannya lagi, ternyata dia juga baru aja pulang dari Banten. Gue bersyukur bertemu kakek itu, karena akhirnya punya temen yang bisa diajak ngobrol dan bisa mengalihkan rasa takut gue. Sebenarnya, cukup banyak yang diobrolin dan banyak kejadian kebetulan yang terjadi. Lalu, kami berpisah karena kakek itu sudah harus turun di sebuah gang dan gue masih harus melanjutkan perjalanan sedikit lagi.

    Oh iya, ada satu hal menarik tentang obrolan sama kakek itu yang sekarang terjadi di hidup gue. Malam itu, sang kakek bertanya, nanti gue mau kerja apa setelah lulus. Lalu, gue bilang mau jadi guru karena bingung menjelaskan lebih lanjut soal pekerjaan. Alhamdulillah, ucapan itu terjadi saat ini. Walaupun sekarang gue masih bimbang tentang hal itu haha
    Sampai hari ini, gue masih belum bertemu lagi sama sang kakek sejak kejadian malam itu. Semoga sang kakek diberikan kesehatan.. Amin!

    Cerita perjalanan bersama Komunitas Kembali ke Sekolah Project jadi penutup momen nostalgia di bulan Februari 2020. Kala itu, ada banyak hal yang terjadi. Pahit-manis segelanya bercampur jadi satu dan kini hanya menyisakan rindu. Kapan kiranya bisa kembali melakukan perjalanan jauh dan memetik banyak hikmah di tiap perjalanannya
    Semoga bisa segera terealisasi :) 






    Continue Reading

    Meninggalkan bulan Januari, sekarang kita beranjak ke Februari! Bulan yang dipenuhi dengan kejutan dan cerita menarik.

    Cerita di bulan ini dimulai dengan kegiatan outing class bersama adik-adik TPA Sahabat Quran, TPA yang didirikan oleh IQF Depok. Sebagai salah satu pengajar sekaligus pengurus TPA, gue mengikuti kegiatan outing class. Kegiatan tersebut diadakan pada hari Ahad, 2 Februari 2020 di Taman Dadap Merah, Jakarta Selatan. Untuk menuju ke tempat tersebut, sudah disediakan lima angkot dan ada juga beberapa kakak pengajar yang menggunakan motor. Gue berangkat bersama Cica menggunakan motor dengan satu adik TPA, Riva namanya, yang mabuk darat. Gue dan Cica sebenarnya tidak tahu jalan menuju lokasi outing class, jadi kami hanya mengandalkan tanya ke warga sekitar dan berbekal intuisi gue yang pernah melewati jalan tersebut. Sialnya, hp kami berdua sama-sama tidak bisa digunakan untuk mengecek gps. Sungguh katro hp kami..

    Akhirnya, tibalah kami di sana sekitar pukul 9 setelah menyusuri jalan Jaksel dan Ragunan. Banyak kegiatan yang dilakukan di sana. Kegiatan sempat terhenti karen hujan yang cukup deras. Ada satu adik TPA yang sukses membuat kakak-kakak pengajar repot bukan main. Biarpun begitu, adik tersebut justru jadi menambah keseruan kegiatan outing class pada saat itu :D

    Mari kita lihat keseruan kegiatan outing class waktu itu lewat dokumentasinya berikut...

    Sumber: dok. pribadi

    sumber: dok. pribadi

    Yah, cuma simpan beberapa foto aja ternyata :") 

    Mereview perjalanan satu tahun ini sepertinya akan dipenuhi oleh rasa rindu. Gue harus mengingat lagi momen-momen yang terjadi satu tahun kemarin. Dan menulis cerita ini, membuat gue jadi ingin kembali mengajar dan bertemu dengan adik-adik TPA SaQu. Sepertinya, kegiatan outing class waktu itu adalah momen terakhir kami bisa menghabiskan waktu bersama secara tatap muka. Bulan berikutnya, kegiatan mengaji yang dilakukan setiap Senin sampai Jumat harus dilakukan secara daring atau online.

    Dan, cerita di Bulan Februari belum berakhir sampai di sini.



    Continue Reading

    Tahun 2021 baru saja dimulai. Rasanya, baru kemarin memasuki tahun 2020 dengan penuh suka cita dan tidak pernah terbayangkan akan berakhir dengan penuh kehampaan. Biasanya, di akhir tahun, gue me-review perjalanan selama satu tahun itu lewat resolusi yang sudah gue buat di akhir tahun sebelumnya. Dan coba tebak, ada berapa yang gue beri tanda ceklis di resolusi 2020 :’) 

    Melihat resolusi 2020 rasanya membuat hati meringis karena banyak yang tidak terealisasi. Tidak, gue gak mau mengkambing hitamkan pandemi atas semua kegagalan yang terjadi. Ini murni keteledoran gue yang tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik.

    Walaupun begitu, bukan berarti tidak ada hal baik dan membahagiakan yang terjadi sepanjang tahun 2020. Lewat tulisan ini, gue mencoba untuk mengingat kembali hal-hal apa saja yang sangat gue syukuri selama melewati tahun 2020 yang penuh dengan kejutan di dalamnya. Gue berencana untuk membuat beberapa tulisan mengenai review perjalanan selama satu tahun kemarin yang belum sempat gue tulis pada waktu itu. Sekaligus ingin merealisasikan habit menulis yang harusnya dicapai tahun 2020 kemarin. Bismillah.. semoga awal tahun ini menjadi awal yang baik untuk mulai merutinkan kegiatan menulis :)

    Oke, kita mulai dari bulan Januari… ada apa kira-kira di bulan itu?

    Januari 2020

    Awal tahun kemarin, gue masih tinggal di IQF (Indonesia Quran Foundation) sebagai mahasantri angkatan 9. Menjadi bagian dari keluarga IQF adalah salah satu hal yang gue syukuri selama perjalanan hidup gue. Gue mendapatkan banyak ilmu dan hidup dengan orang-orang yang punya beragam karakter dan sangat menginspirasi.

    Di Januari kala itu, IQF sedang mengadakan rangkaian kegiatan IQF Olimpiade, semacam perlombaan antarsantri. Ada perlombaan individu dan ada juga perlombaan berkelompok. Para santri perempuan yang berjumlah kurang lebih 30 orang dibagi ke dalam lima kelompok dan gue masuk ke dalam kelompok yang diberi nama Asy-Syams bersama Nisa, Ka Fitri, Ifa, Devina, dan Famila.

    Rangkaian IQF Olimpiade diadakan selama bulan Januari dengan berbagai mata lomba, mulai dari write a verse, MHQ (Musabaqoh Hifdzil Quran), menulis esai, membuat kaligrafi, pidato, hingga senam. Semua kegiatan itu berakhir dengan pengumuman pemenang pada 27 Januari 2020. Alhamdulillah.. ada beberapa perlombaan yang berhasil dimenangkan oleh kelompok kami :D

    sumber: dok. pribadi

    Dan sedihnya, tak ada satu pun lomba individu yang berhasil gue menangkan haha. Tapi tidak mengapa, gue tetap menikmati keseruan rangkaian perlombaannya :)

    IQF Olimpiade ini diadakan setelah parasantri liburan dan pulang ke kampung halamannya masing-masing. Acara ini bermanfaat banget untuk kembali membiasakan rutinitas positif yang mungkin sempat ditinggalkan selama liburan kemarin. Dengan mengikuti kegiatan ini, gue berusaha sekuat tenaga me-murojaah hapalan karena akan mengikuti lomba MHQ. Harusnya sih selama liburan gue rutin morajaah, tapi kenyataannya gue malah terlena dengan kegiatan yang tidak produktif :")

    Kegiatan IQF Olimpiade ini menjadi awal yang baik dalam memulai perjalanan tahun 2020. Semua santri pada saat itu sibuk mempersiapkan dirinya dan kelompok untuk mengikuti perlombaan. Di Januari juga gue semakin mengenal dekat dengan santri-santri lainnya yang sebelum adanya kegiatan ini, kami jarang berinteraksi. 

    Melihat kilas balik momen Januari 2020 kemarin membuat gue semakin rindu mereka, teman-teman, SPV, dan ustadzah di IQF yang kini sudah tidak lagi tinggal bersama. Semoga kita semua bisa berkumpul lagi dan bisa terus menjaga silaturahmi. Doa terbaik untuk kalian semua :)


    Continue Reading



    Hai, sudah lama tidak berkunjung ke sini. Beberapa bulan ke belakang, gue memang sedang sibuk menyelesaikan Tugas Akhir sebagai syarat menjadi sarjana, diselingi dengan kegiatan magang. Di tengah pandemi yang sudah melanda lebih dari enam bulan lamanya, gue terpaksa harus terbiasa dengan semua kegiatan yang "berbau" online. Bimbingan TA online, termasuk kegiatan magang selama tiga bulan penuh yang diisi dengan WFH dan beronline ria di ruang maya. Hufft lelah rasanya!

    Bulan Maret tahun ini kayaknya menjadi titik balik kehidupan gue. Bukan hanya karena di bulan itu gue lahir ke bumi, tapi di bulan Maret inilah semua kegiatan online bermula, semenjak diberlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). 

    Dari Bulan Maret, kita beranjak ke lima bulan setelahnya. Agustus!

    Di bulan Agustus ini, PSBB di daerah Jabodetabek sudah tidak berlaku dan diganti dengan sistem “New Normal” atau sistem kenormalan baru. Di bulan ini juga, gue harus melepaskan status mahasiswa yang telah disandang selama 4 tahun lamanya. Ada perasaan gak rela sebenernya! Apalagi di saat-saat seperti ini dan gue harus mengucapkan selamat tinggal kepada semua rutinitas dan kesibukan di Depok, orang-orang yang ada di kampus, dan kebebasan selama menjadi mahasiswa.

    Sebelum pandemi ini muncul, gue sudah membayangkan akan menetap di Depok setelah lulus kuliah. Bahkan, gue juga sudah membayangkan akan seperti apa meriahnya acara wisuda di bulan Agustus nanti. Gue pakai toga, dinyanyiin Maba (Mahasiswa Baru), salaman dengan rektor, mengajak keluarga ke Balairung, juga foto bersama teman-teman lainnya.

    Yah, manusia memang hanya bisa berencana. Pada akhirnya, kita tetap harus menjalani takdir yang sudah ditentukan.

    Bagi beberapa orang, "New Normal" ini mungkin membuat mereka harus terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan baru, seperti rajin mencuci tangan, memakai masker, dan sedia hand sanitizer. Lebih dari itu, New Normal membuat gue harus terbiasa dengan rutinitas dan tempat baru. Gue gak lagi dateng ke kampus tiap Senin sampai Jumat. Ngerjain tugas. Rapat. Ngajar privat. 

    Meski rasanya sulit dan belum bisa move on dari kenangan di Depok, gue masih berusaha untuk beradaptasi dan terbiasa dengan rutinitas baru dengan tidak lagi menyandang status sebagai mahasiswa. Sama halnya, ketika gue yang sangat-sangat jarang pakai masker, termasuk ketika naik motor, terpaksa harus terbiasa memakai masker ke mana pun dan di mana pun. Sulit memang pada awalnya, tapi agar gue bisa terhindar dari virus berbahaya, gue harus memaksa diri untuk terbiasa!

    Terakhir, gue ingin mengucapkan terima kasih untuk Depok dan semua kenangan di dalamnya. Terima kasih sudah banyak mengukir kenangan indah dalam hidup dan membentuk diri gue menjadi yang seperti sekarang. Dan, selamat datang kenormalan baru!

    Continue Reading
    Orang bijak pernah berkata, "satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian". Ada benernya juga sih karena sering kali di hidup ini kita menjumpai banyak ketidakpastian, misalnya ketidakpastiaan soal kapan meninggal, kapan menikah, kapan punya anak, dan lain sebagainya. Belakangan ini, dunia juga dihadapkan pada satu hal yang tidak pasti, termasuk Indonesia tentunya. Yap, yaitu terkait virus Covid-19. Kapan kiranya wabah itu bisa segera berakhir? Masih menjadi sebuah ketidakpastian sampai kini. Kita doakan saja, semoga ada kabar baik dalam waktu dekat, ya.

    Entah penyebab yang sebenarnya apa, virus Covid-19 ini tiba-tiba sudah membuat heboh jagat Rapublik Rakyat Cina, lalu diiringi negera-negara lainnya. Di Indonesia, wabah ini baru diketahui sekitar pertengahan Maret dan membuat pemerintah serta seluruh warga Indonesia menggalakkan #dirumahaja untuk mencegah penyebaran virus. Sedih sih sebenarnya, karena gak bisa lagi bebas beraktivitas seperti biasanya. Kegiatan belajar di sekolah, perkuliahan, dan pekerjaan jadi dilakuin di rumah.

    Hari ini, sudah satu pekan benar-benar gak ngelakuin aktivitas di luar rumah, selain belanja di warung. Awalnya mikir, "Yaudah, apa susahnya sih buat diam di rumah aja". Tapi, makin hari rasanya makin jenuh aja di rumah. Sehari dua hari bisa lah, tapi kalau udah satu minggu, rasanya pingin ngelakuin hal lain. Pingin juga pergi ke asrama, tapi dilema. Di asrama seru sih, karena banyak temennya, jadi kalau jenuh bisa ada temen cerita dan bisa ikutin kegiatan asrama lagi, yang kalau dikerjain di rumah rasanya susaaaah. Tapi, takut juga buat menempuh perjalanan jauh menuju asrama. Apalagi ditengah wabah yang semakin parah. Jadi, ngebayangin film Train to Busan!

    Selain itu, ada juga kerjaan dan tugas kuliah yang rasanya lebih kondusif kalau ngerjain di asrama. Soalnya, di rumah banyak godaan! (Ah, padahal tinggal ubah aja pola pikirnya. Di asrama juga belum tentu tuh bakalan rajin ngerjainnya. Hihi) Pokoknya dilema, deh! Padahal, rasanya rindu banget cerita-cerita dan ketemu temen-temen :( tapi takut juga, nanti malah jadi carrier virusnya. Kalau di asrama, kadang juga rindu sama rumah. Hmmm serba salah!

    Sampai hari ini, belum ada kepastian kapan berakhirnya masa isolasi diri di rumah. Ayolah Covid-19, jangan lama-lama di sini! Udah gak betah nih di rumah terus. Meskipun katanya, ketidakpastian adalah hal yang pasti. Tapi, untuk masalah ini, semoga saja segera menemukan kepastian dan titik terang. Semoga tidak ada lagi yang tertular virus. Semoga dunia segera pulih dari masalah ini. Amin ya rabbalamin.
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Follow me

    • facebook
    • google+
    • tumblr
    • instagram
    • youtube

    Blog Archive

    • Mei 2023 (1)
    • April 2023 (2)
    • September 2021 (1)
    • Juli 2021 (1)
    • Februari 2021 (1)
    • Januari 2021 (3)
    • September 2020 (1)
    • Maret 2020 (1)
    • Desember 2019 (1)
    • November 2019 (2)
    • Oktober 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Februari 2019 (1)
    • November 2018 (1)
    • Maret 2017 (1)
    • Februari 2016 (3)
    • Januari 2016 (2)
    • September 2015 (1)
    • Maret 2015 (3)
    • Januari 2015 (1)
    • Oktober 2014 (4)
    • Juli 2014 (2)
    • Juni 2014 (1)

    Labels

    Cerita Hari Ini Tutorial Ulasan Buku Ulasan Film Ulasan Novel

    Member of

    Member of

    About Me

    Foto saya
    Siti Aliyah
    Seorang penafsir mimpi yang sedang menghidupi mimpi-mimpinya di dunia nyata.
    Lihat profil lengkapku
    facebook Twitter instagram google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top