Februari 2020: Memorabilia (2)

Senin, Januari 11, 2021

Selepas kegiatan outing class bersama adik-adik TPA Sahabat Quran, cerita berlanjut dengan kegiatan bersama komunitas Kembali ke Sekolah Project yang diadakan pada pertengahan Februari, tepatnya pada 15 Februari 2020. Di kegiatan ini, gue juga bertemu dan bermain bersama adik-adik lucu nan energik.

Sesuai dengan nama komunitasnya, kegiatan yang diadakan adalah mengunjungi sebuah sekolah dan berbagi pengalaman mengenai berbagai profesi. Sekolah yang dikunjungi adalah SDN Pasirlancar 2  yang ada di Pandeglang, Banten. Kegiatan di sekolah tersebut diadakan hanya satu hari, tapi para relawan sudah berkumpul satu hari sebelumnya dan menginap di rumah salah seorang warga. Para relawan yang mengikuti kegiatan ini datang dari berbagai latar belakang pekerjaan, ada yang berprofesi sebagai guru, pekerja kantoran, dan ada juga mahasiswa seperti gue.

Tujuan gue mengikuti kegiatan ini pada awalnya karena gue ingin mengunjungi lagi tempat yang pernah gue singgahi ketika program K2N tahun 2019 lalu. Walaupun tempat volunteer kali ini bukan di lokasi penempatan K2N, tapi setidaknya gue bisa sedikit melepas rindu dan kembali mengingat-ingat momen baik selama tinggal di Pandeglang. Satu lagi, gue bisa kembali bermain bersama adik-adik :)

Kegiatan ini diadakan pada hari Sabtu, 15 Februari dan gue berangkat pada hari Jumat dari Depok menuju titik kumpul di daerah Serang, Banten. Sejak awal gue sudah menduga, perjalanan sebagai relawan kali ini akan menjadi cerita seru dan penuh kejutan. Benar saja, gue banyak mendapatkan kejutan dan cerita-cerita menarik sepanjang perjalanan. Mulai keberangkatan dari Depok hingga pulangnya ke rumah, di Bekasi.

Perjalanan Panjang Menuju Titik Kumpul

Berbekal info dari internet dan bertanya ke orang yang lebih tahu, gue berangkat dari Depok menuju Pandeglang menggunakan KRL (Kereta Rel Listrik). Katanya, nanti tinggal turun di stasiun Rangkasbitung, lalu disambung angkot dua kali. Sialnya, gua baru berangkat setengah 12 karena mengira kalau perjalanan menuju stasiun Rangkasbitung hanya akan memakan waktu selama 2 jam. Di KRL, gue sudah berulangkali ketiduran, tapi tetap tidak sampai-sampai juga. Gue tidak mengira kalau perjalanan menggunakan KRL dari Depok menuju Rangkasbitung bisa selama itu. 

Setelah 4 jam perjalanan dari Depok, gue sampai juga di stasiun Rangkasbitung pada pukul 4 sore. Padahal, janjian di titik kumpulnya pukul 4. Kejutan lainnya lagi, perjalanan dari Rangkasbitung ke titik kumpul ternyata masih cukup jauh. Harusnya, gue naik angkot dua kali dari stasiun Rangkasbitung. Tapi karena waktu yang terbatas, gue memutuskan untuk naik ojek. Ojek pangkalan tepatnya, karena ojek online tidak bisa gue pesan, entah karena jaraknya yang terlalu jauh atau memang tidak ada ojek online di sekitar situ.

Keluar dari stasiun, gue melihat ada ojek pangkalan. Tanpa pikir panjang, gue langsung pesan dan mengatakan lokasi tujuan ke abang ojeknya. Untuk ongkosnya, abang ojeknya bilang hanya 15 ribu. Lumayan murah, pikir gue. Berarti harusnya jaraknya gak jauh dong. Tapi karena curiga, gue pastiin lagi ke abangnya tentang alamat yang gue tuju. Dan benar aja, ternyata abangnya salah mengira dan ongkosnya jadi 10 kali lipat alias 150 ribu. Akhirnya, setelah tawar menawar yang cukup alot di atas motor yang terus berjalan, gue bisa bayar 120 ribu. Mahal sih memang untuk mahasiswa dengan uang terbatas kaya gue pada saat itu :") Tapi jaraknya memang jauh banget dan naik ojek adalah pilihan terbaik daripada gue harus naik angkot, yang entah kapan akan sampai.

Di perjalanan, sempat ada adegan putar balik cari jalan lain karena ada razia. Untungnya, abang ojek sempat buat putar balik, karena si abang ojek ini memang tidak memberikan gue helm. Otomatis diberhentiin ini mah! 

Setelah hampir 1 jam di atas motor, akhirnya sampai juga di titik kumpul, yaitu Untirta! Gak enak sebenarnya karena telat dan memberikan kesan buruk ketika pertama bertemu. Setelah tiba, ternyata masih harus menunggu lagi karena ada relawan yang masih dalam perjalanan. Sekitar pukul setengah enam, barulah kami semua berangkat ke Pandeglang menggunakan angkot yang sudah disewa.

Berbagi Cerita Bersama Orang Baru

Perjalanan dari titik kumpul menuju lokasi acara memakan waktu kurang lebih tiga jam. Perjalanan yang cukup panjang, bagi gue. Di angkot itu, gue bersama dengan beberapa relawan. Gue bersyukur bisa mengikuti kegiatan ini dan bertemu dengan mereka semua. Di perjalanan bersama mereka di angkot, kami membahas banyak hal. Gue jadi mendapat sedikit insight tentang ABK lewat cerita Ka Aini, yang memang pengajar SLB dan alumni Psikologi. Waktu perjalanan terasa singkat karena kami semua banyak bercerita dan kadang diselingi diam sambil melihat pemandangan di jalan. Walaupun baru kenal hari itu, kami tidak canggung untuk bercerita dan bercanda.

Sekitar pukul 9 malam, akhirnya kami tiba di rumah salah seorang warga tempat kami menginap malam itu, yaitu rumah Pak Dayat. Ketika keluar dari angkot, gue langsung melihat pemandangan langit malam yang dipenuhi bintang. Masya Allah, jadi semakin rindu dengan suasana ketika K2N :") Di rumah itu, sudah tersedia beraneka makanan untuk mengisi ulang tenaga yang habis selama perjalanan tadi.

The Day!

Hari yang dinanti tiba. Kami semua sudah bersiap sejak pukul 4 dini hari. Setelah bersih-bersih, sarapan, dan briefing, berangkatlah kami sekitar pukul 06.30 ke SDN Pasirlancar 2. Kami menggunakan mobil losbak  dan melewati jalur persawahan. Saat itu, langitnya biru cerah dan selama di perjalanan, kami seru bercanda dan bercerita. Suasana kala itu sangat-sangat menentramkan, jauh dari sibuknya perkotaan.

Setelah 30 menit perjalanan dengan jalan yang naik turun, tibalah kami di sekolah yang dituju dengan disambut oleh guru-guru dan adik-adik lucu yang langsung berbaris dan menyalami kami. Kondisi sekolah cukup memperihatinkan. Tembok retak parah, lantai yang ubinnya udah gak ada, dan entah kursi mencukupi siswa atau tidak. Ditambah lagi, kondisi lapangan yang becek karena tidak beraspal.

Terlepas dari semua itu, gue senang bisa melihat anak-anak tertawa dan menikmati kegiatan pada hari itu. Semangat mereka untuk menuntut ilmu juga membuat gue ingin terus melakukan hal-hal yang bisa mengubah kondisi pendidikan yang memperihatinkan ini. 

Masuk ke bagian kegiatan inti, yaitu kegiatan bermain sambil memperkenalkan beberapa profesi. Anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan kelasnya. Nantinya, mereka akan mengunjungi pos-pos yang sudah dibuat. Di pos-pos tersebut, mereka akan diperkenalkan dengan berbagai profesi, ada perawat, ilmuwan, dan ada beberapa lagi yang lain, tapi gue lupa. 

Tugas gue di sana adalah mendampingi kelompok tersebut. Kami singgah di dua pos, yaitu pos perawat dan ilmuwan. Di pos perawat, anak-anak diajak memainkan permainan. Lalu, di pos ilmuwan anak-anak diperlihatkan percobaan membuat gunung merapi dari tanah liat. Meraka semua sangat antusias melihat dan membantu pembuatan gunung merapinya.



Ada satu anak yang cukup menarik perhatian gue. Namanya Dini. Dia berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda yang kadang gak gue pahami. Dia terus memaksa gue bermain sama dia dengan berkata, "Hayu kak, main suput-suputan" seperti itulah kurang lebih. Dan, baru gue pahami ternyata suput-suputan adalah semacam permainan petak umpet. Sayang sekali, gue gak sempet foto dengan dia karena ketika acara selesai dia sudah tidak terlihat lagi dan gue gak sempat pamitan juga ke Dini.
Hai, Dini! Semoga kita bisa ketemu lagi.

Kegiatan di sekolah ditutup dengan pemberian donasi kepada pihak sekolah dan adik-adik semua. Selain bermain bersama adik-adik, sebenarnya ada kegiatan lain yang dilakukan oleh Komunitas Kembali ke Sekolah Project, yaitu workshop bersama orang tua murid dan guru.


Setelah kegiatan di sekolah selesai, kami semua kembali ke rumah Pak Dayat. Lalu, bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing. Kami semua pulang menggunakan angkot yang sebelumnya sudah disewa. Di perjalanan, kami mampir sebentar untuk makan bakso. Dan di sanalah, beberapa relawan berpisah untuk melanjutkan menggunakan angkutan lainnya. Gue sendiri pulang bersama menggunakan mobil pribadi salah satu panitia dengan beberapa orang lainnya, yang salah satunya menemani gue pulang sampai Bekasi karena memang searah.

Kenyataan yang Sulit Dipercaya!

Setelah berlelah-lelah seharian berpetualang dan bermain, gue masih harus melanjutkan perjalanan pulang yang cukup jauh. Dimulai dengan naik angkot dari Pandeglang bersama teman-teman relawan lainnya, lalu naik mobil pribadi, hingga akhirnya berpisah karena gue harus melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju Bekasi.

Di perjalanan pulang itu gue gak sendiri. Gue pulang bersama dengan Pak Rofii karena sama-sama tinggal di Bekasi. Kami menunggu bus menuju Bekasi cukup lama, sampai akhirnya muncul bus arah Bandung yang bisa kami tumpangi. Karena hari sudah mulai larut dan gue yang sudah tidak tahan kantuk, kami tidak banyak bicara selama perjalanan. Tapi sebelum gue ketiduran, gue sempat mendengarkan cerita-cerita keseruan Pak Rofii selama aktif di kegiatan relawan. Gue sangat salut dengan orang-orang yang meluangkan waktunya dengan kegiatan kerelawanan, terutama di bidang pendidikan. Dan meskipun Pak Rofii sudah berkeluarga, beliau masih aktif berkontribusi. Semoga gue juga bisa istiqomah di jalan tersebut :)

Malam sudah semakin larut, dan bus yang ditumpangi sudah sampai di pemberhentian yang gue tuju, yaitu Tol Jatibening. Seharusnya, kami naik bus lagi. Namun, karena sudah pukul 11 malam dan tidak ada lagi bus menuju lokasi yang kami tuju, akhirnya kami memutuskan naik angkot. Dan, rupanya kami harus melompati pagar pembatas tol untuk bisa naik angkot tersebut. Wah, pengalaman pertama seperti ini. Mata masih setengah sadar sudah harus melakukan kegiatan ekstrim haha

Lalu, gue dan Pak Pii harus berpisah di Bekasi Barat, sedangkan gue turun di Metropolitan Mall. Malam sudah semakin larut, dan gue tidak tahu harus pulang naik apa lagi. Hp sudah mati sehingga gue tidak bisa meminta jemput bahkan untuk pesan ojek online. Akhirnya, gue memutuskan untuk naik angkot lagi.

Di angkot itu ada beberapa penumpang. Semuanya laki-laki. Kalau diingat-ingat lagi, kenapa ya gue berani banget pulang malem dengan kondisi yang gak mendukung kaya gitu. Di angkot itu, ada kakek-kakek yang langsung ngajakin ngobrol. Untung, dia gak bawa cangkul atau gayung, cuma bawa pete dua karung, jadi gue mau jawab pertanyaannya :D

Dari obrolan yang ngalor-ngidul, terkuaklah kalau dia ternyata kenal sama Bapak gue. Waw, sebuah kebetulan yang tidak direncanakan! Mengapa dunia sesempit ini. 
Lebih mengejutkannya lagi, ternyata dia juga baru aja pulang dari Banten. Gue bersyukur bertemu kakek itu, karena akhirnya punya temen yang bisa diajak ngobrol dan bisa mengalihkan rasa takut gue. Sebenarnya, cukup banyak yang diobrolin dan banyak kejadian kebetulan yang terjadi. Lalu, kami berpisah karena kakek itu sudah harus turun di sebuah gang dan gue masih harus melanjutkan perjalanan sedikit lagi.

Oh iya, ada satu hal menarik tentang obrolan sama kakek itu yang sekarang terjadi di hidup gue. Malam itu, sang kakek bertanya, nanti gue mau kerja apa setelah lulus. Lalu, gue bilang mau jadi guru karena bingung menjelaskan lebih lanjut soal pekerjaan. Alhamdulillah, ucapan itu terjadi saat ini. Walaupun sekarang gue masih bimbang tentang hal itu haha
Sampai hari ini, gue masih belum bertemu lagi sama sang kakek sejak kejadian malam itu. Semoga sang kakek diberikan kesehatan.. Amin!

Cerita perjalanan bersama Komunitas Kembali ke Sekolah Project jadi penutup momen nostalgia di bulan Februari 2020. Kala itu, ada banyak hal yang terjadi. Pahit-manis segelanya bercampur jadi satu dan kini hanya menyisakan rindu. Kapan kiranya bisa kembali melakukan perjalanan jauh dan memetik banyak hikmah di tiap perjalanannya
Semoga bisa segera terealisasi :) 






You Might Also Like

0 comments