facebook twitter Tumblr Instagram youtube linkedin

Metamorfosis

    • Beranda
    • Cerita Hari Ini
    • Ulasan Buku
    • Ulasan Film
    • _Film Korea
    • _Film Indonesia
    • _Film Thailand
    • Tutorial
    Beberapa tahun terakhir, bulan Ramadan selalu menjadi momen bagi saya untuk bisa bepergian seorang diri. Entah mengapa, ada keinginan kuat di bulan Ramadan untuk bisa pergi ke berbagai tempat dibanding bulan-bulan lainnya. Misalnya, tahun 2022 dengan impulsifnya, saya pergi ke Bandung. Tepatnya, pergi ke Masjid Salman ITB (Institut Teknologi Bandung). Tempat yang sudah saya kenal sejak SMP melalui lomba cerpen yang diadakan di bulan Ramadan kala itu.

    Begitu pun dengan tahun 2023 ini, ada beberapa tempat dan kegiatan yang saya ikuti. Salah satunya adalah kegiatan Ramadan Festival yang diadakan oleh Hijabers Community Bogor dengan tema "Be Amazing with Rabbani Generation". Kegiatan tersebut diadakan pada Ahad, 2 April 2023. Tentu saja, saya pergi sendirian :) Sebelumnya, ada dua teman yang rencananya juga akan ikut kegiatan tersebut. Namun, keduanya berhalangan hadir. 

    Kegiatan Festival Ramadan diadakan di Hotel Salak the Heritage dan acara berlangsung mulai pukul 09.00 sampai 17.00 dengan diisi oleh beragam kegiatan seperti tausiah oleh Ustadz Taufiqurrahman (Ustadz Pantun), talkshow dengan Mbak Ratu Anandita dan Mbak Mimi Jamilah, sharing bersama Ibu Bintang Sri (Pendiri Hijabers Community Bogor), dongeng, serta santunan anak yatim. 


    Lihat postingan ini di Instagram

    Sebuah kiriman dibagikan oleh HIJABERS COMMUNITY BOGOR (@hijaberscommunitybgr)

    Saya berangkat dari Bekasi menggunakan KRL (Kereta Rel Listrik) sejak pukul 08.00 dan tiba di stasiun Bogor pukul 09.30. Dari stasiun, saya hanya perlu berjalan kaki sekitar 10 menit. Ketika saya tiba, acara sudah berjalan dan terdengar suara Ustadz Pantun sedang mengisi ceramah. 

    Dari tausiah yang disampaikan Ustadz Pantun, ada oleh-oleh ilmu yang saya bawa pulang, yaitu tentang Kunci Kebahagian Dunia Akhirat. Waktu itu yang saya catat ada 4I kuncinya, yaitu Ilmu, Iman, Ikhlas, dan Istiqomah. Dari keempat hal tersebut, istiqomah mungkin jadi hal yang paling sulit, ya. 

    Satu lagi yang saya catat yaitu talkshow bersama Mbak Ratu Anandita dengan tema "Banyak Anak Cepet Tua? Ah Masa". Tema tersebut sesuai dengan kondisi saat ini yang sedang ramai dengan isu "Childfree". Namun isu tersebut tidak banyak dibahas, hal yang lebih dibahas adalah bagaimana sebagai seorang perempuan atau ibu bisa mengatur waktu di tengah kesibukan. Ada beberapa yang saya catat terkait cara yang bisa dilakukan, yaitu mengatur visi-misi yang bisa dikerucutkan menjadi misi harian, misalnya dengan membuat jadwal atau to do list hal-hal yang akan dilakukan. Kemudian, biasakan memulai hari dengan membaca Alquran.

    Di tengah talkshow tersebut, ketika saya sedang menyandarkan kepala ke kursi depan (kursinya kosong, btw), datang seseorang yang meminta izin untuk duduk di sebelah saya. Orang tersebut nantinya akan menemani saya menghabiskan waktu di kegiatan Festival Ramadan ini. Namanya, Ka Anita. Orangnya sangat supel dan mudah bergaul sehingga saya pun sangat nyaman untuk berbicara banyak dengannya. Kebetulan, kami juga memiliki beberapa kesamaan. Dan yang paling penting, saya gak sendirian lagi :)

    Hotel Salak the Heritage, Mirror selfie, Festival Ramadan Hijabers Community Bogor
    Mirror selfie dulu
    Tempat kegiatan ini juga nyaman dan aesthetic. Tidak ingin melewatkan momen ini dengan begitu saja, maka diabadikanlah momen tersebut. Beruntung karena bertemu dengan Ka Anita, kami bisa saling mendokumentasikan.


    Hotel Salak the Heritage, Mirror selfie, Festival Ramadan Hijabers Community Bogor

    Selain oleh-oleh ilmu, ada juga oleh-oleh berupa bingkisan yang bisa dibawa pulang. Dari bingkisan tersebut saya mendapatkan produk pembersih wajah dari Nivea, Kopi Kenangan, sampo Azalea, dan Realfood Jelly. Sisanya, sunscreen Nivea saya beli di booth-nya dan mendapatkan hadiah berupa deodorant.


    Hotel Salak the Heritage, Mirror selfie, Festival Ramadan Hijabers Community Bogor
    Bingkisan Acara

    Ketika tulisan ini dibuat, hampir semuanya sudah saya coba. Hanya pembersih wajahnya saja yang tidak saya pakai karena pembersih wajahnya untuk laki-laki. Jadi, pembersih wajahnya saya berikan untuk adik saya. 

    Untuk pertama kalinya, saya mencoba Kopi Kenangan dalam bentuk kemasan ini. Saya bukan pecinta kopi dan awalnya, saya skeptis dengan rasa kopinya yang terlalu manis dan meninggalkan rasa getir di lidah. Ternyata ketika dicoba, tidak terbukti ke-skeptisan saya tersebut. 

    Lalu, untuk jelly dari Realfood juga cukup bisa dinikmati. Sebelumnya, saya hanya melihat para selebgram saja yang me-review jelly tersebut dan penasaran rasanya seperti apa :D Klaimnya, jelly tersebut bermanfaat untuk kulit karena mengandung kolagen. Yang gak kalah menarik adalah sampo dari Azalea. Walaupun kecil, tapi justru yang paling bermanfaat. Setelah mencoba sampo versi saset tersebut, saya akhirnya beralih menggunakan sampo Azalea karena lebih cocok pakai sampo itu dibanding produk sampo yang saya pakai sebelumnya.

    Oke, kembali ke kegiatan Festival Ramadan. Acaranya selesai sebelum pukul 5 dan ditutup dengan santunan anak yatim. Awalnya, saya berniat untuk buka puasa di Bogor. Namun, karena waktu maghrib tiba masih cukup lama, saya dan Ka Anita memutuskan untuk langsung pulang dan kami sama-sama naik KRL. Ada banyak hal yang diobrolkan selama perjalanan pulang sampai tidak terasa kalau kami sudah tiba di Stasiun Bekasi. Oh iya, kami sama-sama dari Bekasi. Bedanya, saya di Kabupaten dan Ka Anita di Kota Bekasi.

    Padahal obrolannya sedang seru-serunya, tapi kami harus berpisah karena berbeda arah dan pintu keluarnya. Semoga ada kesempatan lain buat melanjutkan obrolannya! :)
    Continue Reading
    Rasanya baru kemarin, datang ke Depok untuk registrasi sebagai mahasiswa baru di Universitas Indonesia. Rasanya baru kemarin, mengikuti rangkaian kegiatan mahasiswa baru, mulai dari latihan paduan suara di Balairung, OKK (Orientasi Kegiatan Kampus), PSA Mabim (Pengenalan Sistem Akademik dan Masa Bimbingan), dan banyak berkenalan dengan orang baru.

    Ternyata, empat tahun sudah berlalu. Empat tahun sudah menghabiskan masa-masa sebagai mahasiswa di kampus yang sejak 2015 selalu terselip di dalam doa dan di tahun 2016, atas izin Allah, saya resmi menjadi mahasiswa di kampus tersebut. Tahun tersebut juga menjadi awal pertemuan saya dengan lima orang teman, yang selanjutnya menjadi sahabat karib dan selalu menemani masa-masa empat tahun di Depok. Mereka adalah Ainul, Indah, Arum, Hanum, dan Diani.

    Di antara mereka berlima, saya pertama kali bertemu dengan Indah ketika masih dalam kegiatan OKK. OKK itu kegiatan orientasi kampus tingkat universitas yang diikuti oleh seluruh mahasiswa dari semua fakultas yang ada di UI. Kemudian, dilanjutkan dengan kegiatan PSA Mabim yang diadakan di masing-masing fakultas. 

    Saya tidak terlalu ingat bagaimana awalnya berkenalan dengan Indah. Tapi, yang saya ingat kami sudah sering berangkat bersama menuju Balairung untuk latihan paduan suara dan berburu foto dengan mahasiswa baru FIB (Fakultas Ilmu Budaya) sebagai tugas untuk PSA Mabim. Waktu itu, saya masih pulang-pergi dari Bekasi ke Depok menggunakan kereta. Begitu pun dengan Indah yang berasal dari Jakarta. Seringnya, Indah yang menunggu saya di stasiun Pondok Cina karena saya masih dalam perjalanan.

    Saya kemudian bertemu dengan Ainul karena kami berada di kelompok yang sama ketika PSA Mabim di FIB, yaitu kelompok Buleleng. Saat itu, penamaan kelompok berdasarkan nama daerah di Bali karena tema PSA Mabim tahun 2016 tentang Bali. Ainul berasal dari Sumatera Barat dan selalu semangat ketika membicarakan tentang sastra, khususnya tokoh Andrea Hirata. Dari Ainul lah saya juga jadi banyak membaca karya-karya Andrea Hirata.

    Lalu, pertemuan Diani, Arum, dan Hanum adalah ketika tes Bahasa Inggris di Balairung. Mereka sudah datang dan sudah saling mengenal ketika mengikuti tes tersebut. Waktu itu, saya bersama Ainul dan Indah datang bersama. Kami berenam duduk saling berdekatan. Dari pertemuan di Balairung inilah, akhirnya kami semua berteman.

    Banyak hal yang kami lakukan bersama. Salah satu momen yang paling membahagiakan ketika kami berlibur ke Malang dan Batu, tempat tinggalnya Diani dan Hanum, pada tahun 2018. Di sana, kami pergi ke berbagai pantai naik mobil bak terbuka, lalu ke coban atau air terjun.

    Tidak sedikit juga momen sedih terjadi. Misalnya, ketika saya yang sedang sakit diantarkan Indah ke klinik. Namun selepas dari klinik, saya justru menangis di depan klinik karena sakit hati dengan perkataan petugasnya. (Kalau diingat-ingat malu juga nangis di depan klinik T.T Untungnya, waktu itu kliniknya sepi).

    Lalu, tahun 2023 datang. Tiga tahun selepas momen wisuda yang dilakukan secara daring karena pandemi covid-19, kami bisa berkumpul kembali secara utuh karena sebelumnya Ainul menetap di Padang dan Hanum di Batu. Tepatnya pada 19 Maret 2023, kami bisa merayakan dan mengabadikan momen menggunakan toga di depan rektorat. Momen ini juga bertepatan dengan wisuda S2 Hanum.

    Waktu rasanya cepat sekali berlalu. Semoga persahabatan kami tetap abadi meski nanti terpisah jarak lagi. Meski nantinya akan semakin sulit mencari waktu bersama. Semoga hati kita selalu terpaut dan hal-hal baik selalu menyertai perjalanan yang kami tuju. 

    Seven great years of friendship and still counting!


























    Cheers to many more years of laughter, love, and friendship!♡

    Continue Reading

           

    sumber: doc. pribadi

            Hidup adalah menjalani konsekuensi dari sebuah pilihan. Ya, begitulah yang disampaikan Bayu Adi Persada dalam bukunya berjudul Anak-Anak Angin: Keping Perjalanan Seorang Pengajar Muda. Bayu Adi Persada adalah salah seorang dari 51 Pengajar Muda angkatan pertama Indonesia Mengajar. Kalimat tersebut mungkin menjadi salah satu motivasi bagi penulis buku ini dalam menjalani konsekuensi hidupnya yang memilih untuk mengabdikan diri selama 1 tahun di desa Bibinoi, Halmahera Selatan.

    Indonesia Mengajar merupakan sebuah lembaga yang melatih dan mengirimkan pemuda terbaik bangsa untuk mengabdi sebagai Pengajar Muda selama satu tahun di berbagai sudut Indonesia. Anak-Anak Angin menjadi bukti perjalanan Bayu Adi Persada dalam mengabdikan diri sebagai pengajar muda di desa Bibinoi pada tahun 2010-2011. Pak Bayu, panggilannya selama di Bibinoi, menuliskan kisah perjalanan dan pengalamannya sejak awal tiba di desa tersebut sampai hari terakhir dan harus berpisah dengan semua warga Bibinoi.

    Buku ini terdiri atas beberapa bab yang tersusun beradasarkan bulan, mulai dari bulan November 2010 sampai November 2011. Tiap bab berisi beberapa kisah yang diberi judul sesuai dengan kisahnya masing-masing. Setiap kisah memiliki pembelajaran sekaligus dapat memotivasi para pembacanya, khususnya bagi pembaca yang menyukai dunia pendidikan.

    Bukan hanya berisi kisah dalam mengajar anak-anak SD di desa Bibinoi, Pak Bayu juga berbagi kisah dalam berinteraksi dengan masyarakat dan keluarga tempatnya tinggal. Permasalahan dan kesalahpahaman tidak luput mewarnai hari-hari Pak Bayu selama di sana. Namun, semua itu akhirnya menemui jalan keluarnya seiring berjalannya waktu.

    Salah satu kisah yang menarik yang diceritakan Pak Bayu adalah kisah yang berjudul “Belajar dari Seorang Ajrul”. Ajrul merupakan murid kelas 5 yang memiliki tabiat yang agak sulit diatur dan tidak memiliki rasa hormat dengan guru-guru. Meski sudah sering diberi hukuman, Ajrul sering berulah, seperti tidak jera dengan semua hukuman yang diberikan. Puncaknya, Pak Bayu meminta maaf karena harus menampar Ajrul karena perbuatannya yang sudah mengotori Rumah Belajar. Hal itu merupakan salah satu bentuk hukuman fisik yang terpaksa dilakukan Pak Bayu.

    Sebetulnya, hukuman fisik memang sudah biasa dilakukan sebagai efek jera bagi murid-murid di sana yang kerap melanggar aturan. Namun, Pak Bayu menyadari bahwa tindakan tersebut tidak dibenarkan. Setelah kejadian tersebut, perlahan sikap Ajrul mulai berubah. Ia mulai mau mengerjakan tugas dan menghormati guru yang lain. Meski bukan suatu tindakan yang dibenarkan, Ajrul berbesar hati memaafkan Pak Bayu yang telah menamparnya dan mau berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

    Dari Ajrul, aku belajar tentang kebesaran hati. Dia mau menerima dan mengakui kesalahannya meski harus dengan cara yang tak menyenangkan. Dia mampu memperbaiki tingkah lakunya untuk menjadikan dirinya lebih baik. Tanpa membenci dan mengeluh, Ajrul percaya diri untuk menjalani kehidupannya yang masih panjang.

    Kisah yang ditulis dalam buku ini dibuat dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami. Selain itu, Pak Bayu juga menceritakannya layaknya di sebuah diary. Pembaca seakan diajak langsung  menyaksikan perjalanan Pak Bayu mengabdi di desa Bibinoi. Pembaca juga seolah-olah berkenalan langsung dengan tokoh-tokoh yang diceritakan di buku tersebut.

    Anak-Anak Angin bisa menjadi salah satu bacaan ringan yang layak dibaca, terutama bagi pembaca yang menyukai dunia pendidikan dan anak-anak. Sebagai salah seorang yang berkecimpung di bidang tersebut, membaca buku ini menjadi salah satu cara untuk me-recharge semangat diri. Sebagai penutup, ada kalimat menarik dari Pak Bayu yang bisa kita teladani.

    Aku bukan guru yang sempurna, tapi setidaknya aku selalu memberikan yang terbaik. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa mudah-mudahan yang kita lakukan tak akan sia-sia dan berbekas mulia di hati orang lain.

    Semoga masih banyak tenaga pendidik yang berdedikasi seperti Pak Bayu dan guru-guru di Bibinoi dalam mendidik putra-putri penerus bangsa.

    Continue Reading
    Maret merupakan bulan favorit gue. Karena apa? Ya, karena di bulan itulah gue lahir Hahaha

    Bulan Maret tahun 2020, yang juga bertepatan dengan hari kelahiran gue, pertama kalinya gue magang di Ruangguru. Setelah melewati proses seleksi dan wawancara, hari itu gue bekerja di kantor Yayasan Ruangguru. Pengalaman luar biasa karena gue bertemu banyak orang baru dan banyak belajar hal-hal baru. Akan tetapi baru saja sehari bekerja, besoknya harus WFH (Work From Home) karena virus corona yang mulai terdeteksi di Indonesia. Gue kira WFH gak berlangsung lama, ternyata sampai akhir magang gue tidak pernah lagi merasakan bekerja secara langsung di kantor Yayasan Ruangguru. 

    Gue magang di bagian Content Analyst yang berkaitan dengan pelatihan guru dari seluruh Indonesia. Gue bersyukur pernah menjadi bagian di bidang tersebut. Karena dari sanalah gue banyak belajar dan memiliki bekal yang cukup untuk memulai pekerjaan baru. Bersyukur juga dipertemukan dengan orang-orang yang sabar dan senantiasa memotivasi gue buat terus meningkatkan dan mengembangkan diri. 

    Juli tahun 2020 adalah bulan terakhir gue magang di Yayasan Ruangguru sebagai Content Analyst. Waktu lima bulan menjadi berkesan banget buat gue yang saat itu juga sedang berjuang menuntaskan Tugas Akhir. Hal yang gue sesali di magang waktu itu adalah gue merasa kurang maksimal berkontribusi di magang kemarin. Gue berharap orang-orang yang terlibat di Yayasan Ruangguru, khususnya bagian yang kemarin gue magang, diberikan kesehatan dan kebahagian dunia akhirat. 



    Continue Reading
     

    Kita mulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan, “Mau dibawa ke mana hidup ini?”

    Malam ini, kembali datang perasaan yang entah bagaimana dideskripsikan. Jenuh, merasa kosong, dan juga bingung. Di saat-saat seperti ini, biasanya muncul banyak pertanyaan yang memenuhi kepala, yang sampai sekarang belum bertemu juga dengan jawabannya. Dikira, perasaan seperti ini muncul hanya menjelang masa-masa datang bulan, hanya bawaan hormon aja. Ternyata, perasaan ini muncul terus menerus. Datang, hilang, lalu kembali datang lagi.

    Mau dibawa ke mana sih hidup ini? Mau sampai kapan terus hidup dalam gelembung pikiran yang tidak menentu. Kadang, kalau lagi naik motor, lihat orang-orang di jalan, suka penasaran, apa yang ada di dalam pikiran mereka. Apa mereka gak bosan sama hidupnya. Apa mereka juga pernah merasakan apa yang saat ini gue rasain. Apa orang-orang gak bosan sama rutinitas mereka.

    Setelah dipikir-pikir, perasaan ini muncul belakangan ini aja. Ketika sekolah sampai kuliah, kayaknya belum pernah merasakan perasaan yang seperti ini. Kayanya, dulu hidup lurus-lurus aja, berjalan semestinya walaupun kadang banyak hal yang gak sesuai ekspektasi. Mungkin karena dulu ada tanggung jawab dan tugas-tugas yang menanti untuk dituntaskan. Kalau sekarang, kayanya gak ada yang benar-benar jadi tanggung jawab. Walaupun sekarang udah kerja, tapi gak bisa benar-benar merasakan tanggung jawab yang sebenarnya. Sekarang, malah lebih mudah menyepelekan hal-hal kecil. Hal-hal krusial juga.

    Lalu, mau dibawa ke mana hidup ini? Mau sampai kapan begini?

     

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Follow me

    • facebook
    • google+
    • tumblr
    • instagram
    • youtube

    Blog Archive

    • Mei 2023 (1)
    • April 2023 (2)
    • September 2021 (1)
    • Juli 2021 (1)
    • Februari 2021 (1)
    • Januari 2021 (3)
    • September 2020 (1)
    • Maret 2020 (1)
    • Desember 2019 (1)
    • November 2019 (2)
    • Oktober 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Februari 2019 (1)
    • November 2018 (1)
    • Maret 2017 (1)
    • Februari 2016 (3)
    • Januari 2016 (2)
    • September 2015 (1)
    • Maret 2015 (3)
    • Januari 2015 (1)
    • Oktober 2014 (4)
    • Juli 2014 (2)
    • Juni 2014 (1)

    Labels

    Cerita Hari Ini Tutorial Ulasan Buku Ulasan Film Ulasan Novel

    Member of

    Member of

    About Me

    Foto saya
    Siti Aliyah
    Seorang penafsir mimpi yang sedang menghidupi mimpi-mimpinya di dunia nyata.
    Lihat profil lengkapku
    facebook Twitter instagram google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top