facebook twitter Tumblr Instagram youtube linkedin

Metamorfosis

    • Beranda
    • Cerita Hari Ini
    • Ulasan Buku
    • Ulasan Film
    • _Film Korea
    • _Film Indonesia
    • _Film Thailand
    • Tutorial
    Keinginan untuk hidup berasrama dan menjalani rutinitas yang sangat berbeda sebenarnya baru muncul ketika mau berakhir semesteran kemarin. Ketika keluar dari kosan yang lama, yang ada di pikiran awalnya tinggal di rumah, dan semester depan pulang-pergi buat kuliah. Sampai akhirnya, setelah scrolling feed dan story di Instagram, gue menemukan informasi pendaftaran asrama IQF (Indonesia Quran Foundation). Tiba-tiba ada keinginan buat daftar dan akhirnya, daftarlah saat itu juga. Inget banget, waktu itu Bulan Ramadan pendaftarannya dibuka. Di bulan itu pula, dihubungi oleh pihak IQF buat melakukan wawancara di asrama IQF yang beralamat di Jln. H. M. Tohir, Depok. Waktu itu sama sekali belum tahu lokasi asramanya.

    Berbekal keinginan yang kuat dan diikuti niat yang tulus, pergilah ke alamat yang dituju dengan hanya mengandalkan gps di handphone dengan baterai yang sebentar lagi sakaratulmaut. Di pertengahan jalan terjadilah apa yang ditakutkan, yaitu handphone mati. Padahal, perjalanan masih panjang dan gue sama sekali buta arah menuju asrama IQF. Saat itu benar-benar pasrah, sampai terbesit di pikiran, "Yaudah, ikutin kata hati aja. Kalau memang takdirnya masuk IQF, pasti bakalan sampe ke tempat yang dituju. Tapi, kalau gak ketemu-ketemu juga tempatnya, berarti memang bukan takdirnya di sana". Iya, sepasrah itu memang si Aliyah ini orangnya. Akhirnya, dengan berbekal ilmu kirologi dan sedikit usaha bertanya ke warga, sampailah di tempat yang dituju, Asrama IQF, yang ternyata berada di pinggir Kali Ciliwung.

    Dan sekarang, sudah lebih dari dua pekan tinggal bersama 29 santri IQF lainnya. Awalnya sempat ragu juga buat tetap melanjutkan mengikuti kegiatan IQF atau tidak. Soalnya, selama bulan Agustus kemarin sempat izin karena ada kegiatan K2N. Sementara, yang lain sudah lebih dulu mengikuti program dan saling mengenal satu sama lain. Bersyukur, gue yang orangnya selalu ragu-ragu ini tetap mempertahankan niat awal untuk menjalani program IQF selama 10 bulan ke depan.

    Ketika pertama kali tiba setelah 35 hari K2N, yang awalnya gue pikir gue akan diasingkan oleh orang-orang di sini, ternyata gue salah. Mereka semua dengan ramahnya menyambut kedatangan gue dan satu orang teman gue, yang juga kebetulan mengikuti kegiatan K2N di tempat yang sama. Lalu, gue juga masih diberi kesempatan untuk mengikuti kegiatan pengukuhan setelah satu bulan masa orientasi. (Padahal gue gak ikutan masa orientasinya, tapi malah ikuta-ikutan dikukuhkan :D)

    Pengukuhannya dilaksanakan hari Sabtu setelah Salat Subuh berjamaah. Di Subuh yang masih terasa dingin itu dan mata yang rasanya terasa sangat kantuk, ada satu pernyataan yang tertanam di pikiran gue ketika salah seorang ustadz menyampaikan petuahnya. Beliau berkata bahwa hari-hari ke depan adalah hari-hari yang berat. Kata-kata itu tanpa sadar terasa begitu lekat di telinga dan kata-kata itulah yang justru kini menjadi motivasi gue buat terus konsisten menjalani program di IQF ini.

    Setelah melihat lagi beberapa bulan ke belakang, rasanya bersyukur banget waktu itu memutuskan buat daftar IQF. Bersyukur juga karena tetap konsisten mengikuti kegiatan IQF meski pada awalnya ragu karena sudah izin lebih dari satu bulan. Dan baru gue sadari, ternyata masuk IQF adalah salah satu jalan untuk mewujudkan salah satu harapan yang gue tulis ketika awal tahun kemarin, yaitu bisa hafal  juz 30. Allah memang tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya.

    Tetap semangat dan terus bertumbuh, Al!

    Depok. 30 Agustus 2019
    Continue Reading
    Belakangan ini lagi senang belajar masak di kosan, sekalian menghemat pengeluaran sih. Tapi, kadang suka bingung mau masak apa. Apa aja yang mau dibeli di pasar. Akhirnya berangkatlah ke Gramedia, cari buku resep masakan yang gampang buat dipraktekkin. Ketika mata lagi fokus melihat-lihat buku, datang anak kecil membawa poster. Entah poster apa. Posternya lumayan besar, sampe hampir nutupin badan dia.

    Anak kecil itu menghampiri gue, sambil matanya tetep fokus ke poster itu dan bilang “Ibu, ini gambar apa?”. Dia terus-menerus ngomong gitu dan gue malah mematung di tempat gue berdiri sambil ketawa dan gak tau mau berbuat apa. Di kejauhan, ibu sebenarnya si anak ini manggil-manggil, tapi anaknya nggak dengar. Dan, gue masih tetap mematung dan masih ketawa.

    Akhirnya, anak kecil itu mengalihkan pandangannya dari poster itu. Lalu, mata kami saling bertemu dan tersadarlah dia kalau yang dihampirinya ini bukan ibunya. Tiba-tiba dia ngeloyor gitu aja dan nyamperin ibunya yang sebenarnya. Asli, lucu banget moment itu! Rasanya nggak bisa berhenti ketawa. Anak kecilnya juga polos banget, dia langsung heran dan pergi. Gak bilang apa-apa. Sayang, gak sempet nanya namanya karena saat itu gue gak bisa mikir apa-apa selain ketawa.

    Ya udah, sekian cerita hari ini.

    Continue Reading
    Segala hal yang telah berlalu memang terkadang membuat rindu. Andai aku punya mesin waktu, ingin kukembali ke masa itu. Ketika tak banyak masalah bertamu dan tak ada hal yang dikhawatirkan hingga jemu. Kepada kalian yang terlibat pada hari itu, kuharap hari ini kalian juga rindu. Sebab, aku tak ingin menanggung sendiri rasa ingin temu.

    Hari menjelang larut, 141018.
    Continue Reading

    Judul               : Cinta di Dalam Gelas
    Penulis             : Andrea Hirata
    Penerbit           : Bentang
    Tahun Terbit    : 2011
    Cetakan ke      : 6 (Mei 2012)
    Tebal Buku      : 264 halaman
    ISBN               : 978-602-8811-09-5

    “Tak ada permainan lain seperti catur, di mana kemenangan dan kekalahannya dapat di tawar. Tak ada permainan lain yang dengan secangkir kopi tampak seperti bertunangan.” (Hal. 243)

    Cinta di dalam gelas adalah kelanjutan dari novel yang berjudul Padang Bulan. Di novel ini, Andrea Hirata masih memilih Belitong sebagai latar cerita dan tokoh ‘aku’ masih diperankan oleh Ikal. Tokoh utama di novel ini adalah Enong atau Maryamah binti Zamzami. Maryamah diceritakan sebagai seorang perempuan yang tangguh dan perempuan pertama yang bekerja sebagai pendulang timah untuk menghidupi ibu serta adik-adiknya setelah ayahnya meninggal. Maryamah bekerja keras menjadi pendulang timah sejak usianya baru 14 tahun. Meski ia harus putus sekolah demi menghidupi ibu serta adik-adiknya, kecintaan dan keinginannya untuk mahir berbahasa Inggris tidak pernah padam. Bahkan Maryamah rajin mengikuti kursus bahasa Inggris di kota seminggu sekali.

    Bagi ketiga adiknya, Maryamah adalah pahlawan karena ia selalu berjuang dan berusaha untuk memenuhi apa yang dibutuhkan oleh ketiga adiknya. Hingga adik-adiknya menikah, Maryamah belum juga menemukan pendamping hidup. Untuk menyenangkan hati ibunya, akhirnya Maryamah menerima pinangan seorang lelaki yang bernama Matarom. Matarom adalah seorang pecatur yang telah menang dua kali berturut-turut dalam kejuaraan catur 17 Agustus.

    Perkawinan Maryamah dengan Matarom ternyata tidak seperti perkawinan ketiga adiknya. Maryamah sering menerima perlakuan buruk dari Matarom, namun ia masih bisa bertahan. Akan tetapi pertahanannya berakhir ketika ia mengetahui jika Matarom telah memiliki istri. Akhirnya pernikahan mereka berakhir secara menyedihkan dengan sakit hati yang ditanggung oleh Maryamah. Sakit hatinya itu ingin ia balaskan dengan cara menantang Matarom dalam kejuaraan catur pada 17 Agustus, padahal Maryamah tidak bisa bermain catur. Catur merupakan suatu hal yang penting di Belitong dan telah menjadi tradisi yang dapat mengangkat derajat seseorang apabila berhasil menjuarai kejuaraan yang diselenggarakan pada lomba 17 Agustus-an. Oleh karena itu, Maryamah ingin merebut kembali martabatnya sebagai perempuan dengan menantang juara bertahan sekaligus membalaskan dendamnya. Kejuaraan catur tersebut diadakan di warung kopi yang bernama ‘Usah Kau Kenang Lagi’ yang merupakan warung kopi tempat Ikal bekerja.

    Mendengar seorang perempuan akan mengikuti kejuaraan catur, banyak orang Melayu yang tidak setuju karena menurut mereka catur merupakan permainan khusus lelaki. Namun setelah dilakukan voting, akhirnya Maryamah bisa mengikuti kejuaraan catur pada 17 Agustus. Maryamah berusaha keras untuk bisa mengalahkan Matarom dengan bantuan Ninochka Stronovsky, seorang Grand Master yang merupakan teman Ikal.

    Terlepas dari kisah Maryamah, Andrea Hirata juga mengangkat kisah tentang kebiasaan lelaki Melayu yang gemar berlama-lama di warung kopi. Tentu saja mereka menghabiskan waktu di warung kopi tersebut untuk mengobrol sambil minum kopi dan bermain catur. Ikal yang bekerja di warung kopi milik pamannya, diam-diam mengamati kebiasaan orang Melayu dalam meminum kopi dan menuliskannya dalam Buku Besar Peminum Kopi.

    “Kopi adalah minuman yang ajaib, setidaknya bagi lidah orang Melayu, karena rasanya dapat berubah berdasarkan tempat.”


    Keahlian Andrea Hirata dalam menyajikan kisah antara kopi, catur, dan seorang perempuan tangguh membuat novel ini memiliki makna yang besar. Andrea Hirata juga banyak memberikan filosofi-filosofi yang sangat menarik, seperti filosofi tentang kopi. Selain itu, banyak pelajaran yang bisa diambil dari novel Cinta di dalam gelas, di antaranya motivasi perjuangan hidup seorang pendulang timah dan semangatnya yang tidak pernah padam untuk terus belajar. 
    Continue Reading
    Hello, welcome back to my blog... setelah sekian lama nggak posting di blog, akhirnya blog ini hidup kembali #yeayy
    Kali ini gue mau posting foto sisa-sisa liburan kemarin, mau tahu liburannya kemana?
    Yap,,, ke Kota Tua!
    Oke let the pictures speak for themselves…










     Love this one ♥









    Although just a short holiday, but it was very enjoyable.
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Follow me

    • facebook
    • google+
    • tumblr
    • instagram
    • youtube

    Blog Archive

    • Mei 2023 (1)
    • April 2023 (2)
    • September 2021 (1)
    • Juli 2021 (1)
    • Februari 2021 (1)
    • Januari 2021 (3)
    • September 2020 (1)
    • Maret 2020 (1)
    • Desember 2019 (1)
    • November 2019 (2)
    • Oktober 2019 (3)
    • September 2019 (1)
    • Februari 2019 (1)
    • November 2018 (1)
    • Maret 2017 (1)
    • Februari 2016 (3)
    • Januari 2016 (2)
    • September 2015 (1)
    • Maret 2015 (3)
    • Januari 2015 (1)
    • Oktober 2014 (4)
    • Juli 2014 (2)
    • Juni 2014 (1)

    Labels

    Cerita Hari Ini Tutorial Ulasan Buku Ulasan Film Ulasan Novel

    Member of

    Member of

    About Me

    Foto saya
    Siti Aliyah
    Seorang penafsir mimpi yang sedang menghidupi mimpi-mimpinya di dunia nyata.
    Lihat profil lengkapku
    facebook Twitter instagram google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top