B E R S Y U K U R !

Senin, September 09, 2019

Keinginan untuk hidup berasrama dan menjalani rutinitas yang sangat berbeda sebenarnya baru muncul ketika mau berakhir semesteran kemarin. Ketika keluar dari kosan yang lama, yang ada di pikiran awalnya tinggal di rumah, dan semester depan pulang-pergi buat kuliah. Sampai akhirnya, setelah scrolling feed dan story di Instagram, gue menemukan informasi pendaftaran asrama IQF (Indonesia Quran Foundation). Tiba-tiba ada keinginan buat daftar dan akhirnya, daftarlah saat itu juga. Inget banget, waktu itu Bulan Ramadan pendaftarannya dibuka. Di bulan itu pula, dihubungi oleh pihak IQF buat melakukan wawancara di asrama IQF yang beralamat di Jln. H. M. Tohir, Depok. Waktu itu sama sekali belum tahu lokasi asramanya.

Berbekal keinginan yang kuat dan diikuti niat yang tulus, pergilah ke alamat yang dituju dengan hanya mengandalkan gps di handphone dengan baterai yang sebentar lagi sakaratulmaut. Di pertengahan jalan terjadilah apa yang ditakutkan, yaitu handphone mati. Padahal, perjalanan masih panjang dan gue sama sekali buta arah menuju asrama IQF. Saat itu benar-benar pasrah, sampai terbesit di pikiran, "Yaudah, ikutin kata hati aja. Kalau memang takdirnya masuk IQF, pasti bakalan sampe ke tempat yang dituju. Tapi, kalau gak ketemu-ketemu juga tempatnya, berarti memang bukan takdirnya di sana". Iya, sepasrah itu memang si Aliyah ini orangnya. Akhirnya, dengan berbekal ilmu kirologi dan sedikit usaha bertanya ke warga, sampailah di tempat yang dituju, Asrama IQF, yang ternyata berada di pinggir Kali Ciliwung.

Dan sekarang, sudah lebih dari dua pekan tinggal bersama 29 santri IQF lainnya. Awalnya sempat ragu juga buat tetap melanjutkan mengikuti kegiatan IQF atau tidak. Soalnya, selama bulan Agustus kemarin sempat izin karena ada kegiatan K2N. Sementara, yang lain sudah lebih dulu mengikuti program dan saling mengenal satu sama lain. Bersyukur, gue yang orangnya selalu ragu-ragu ini tetap mempertahankan niat awal untuk menjalani program IQF selama 10 bulan ke depan.

Ketika pertama kali tiba setelah 35 hari K2N, yang awalnya gue pikir gue akan diasingkan oleh orang-orang di sini, ternyata gue salah. Mereka semua dengan ramahnya menyambut kedatangan gue dan satu orang teman gue, yang juga kebetulan mengikuti kegiatan K2N di tempat yang sama. Lalu, gue juga masih diberi kesempatan untuk mengikuti kegiatan pengukuhan setelah satu bulan masa orientasi. (Padahal gue gak ikutan masa orientasinya, tapi malah ikuta-ikutan dikukuhkan :D)

Pengukuhannya dilaksanakan hari Sabtu setelah Salat Subuh berjamaah. Di Subuh yang masih terasa dingin itu dan mata yang rasanya terasa sangat kantuk, ada satu pernyataan yang tertanam di pikiran gue ketika salah seorang ustadz menyampaikan petuahnya. Beliau berkata bahwa hari-hari ke depan adalah hari-hari yang berat. Kata-kata itu tanpa sadar terasa begitu lekat di telinga dan kata-kata itulah yang justru kini menjadi motivasi gue buat terus konsisten menjalani program di IQF ini.

Setelah melihat lagi beberapa bulan ke belakang, rasanya bersyukur banget waktu itu memutuskan buat daftar IQF. Bersyukur juga karena tetap konsisten mengikuti kegiatan IQF meski pada awalnya ragu karena sudah izin lebih dari satu bulan. Dan baru gue sadari, ternyata masuk IQF adalah salah satu jalan untuk mewujudkan salah satu harapan yang gue tulis ketika awal tahun kemarin, yaitu bisa hafal  juz 30. Allah memang tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya.

Tetap semangat dan terus bertumbuh, Al!

Depok. 30 Agustus 2019

You Might Also Like

0 comments