PERJALANAN MENEMUKAN RENJANA
Kamis, Oktober 03, 2019
“Hiduplah untuk memberi yang
sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima yang sebanyak-banyaknya.” (Andrea
Hirata, 2005)
Kutipan
di atas merupakan penggalan dialog yang disampaikan Pak Harfan, seorang tokoh
dalam novel Laskar Pelangi karya
Andrea Hirata, kepada anak didiknya. Penggalan tersebut merupakan sebuah pesan
moral yang menjadi moto hidup yang selalu saya tanamkan dalam diri. Sebuah
pesan moral yang memotivasi saya untuk terus memberi sebanyak-banyaknya, bukan
meminta atau menerima sebanyak-banyaknya.
Bagi
saya, memberi bukan hanya perkara materi. Memberi juga dapat dilakukan dengan
mengamalkan ilmu yang dimiliki. Oleh karena itu, saya berusaha untuk terus
mengamalkan ilmu dengan mengikuti berbagai kegiatan kerelawanan dalam bidang
pendidikan. Salah satu kegiatan yang saya ikuti untuk mengamalkan ilmu yang
saya miliki adalah Kuliah Kerja Nyata (K2N) yang diadakan oleh kampus tempat
saya berkuliah, yaitu Universitas Indonesia.
K2N
merupakan salah satu wadah pengabdian yang dimiliki Universitas Indonesia bagi
mahasiswa yang ingin mengaplikasikan dan mengamalkan ilmunya. Tahun ini, kegiatan
K2N UI dilaksanakan di empat wilayah, yaitu Banten, Karawang, Medan, dan
Ternate. Saya mendapat tugas di wilayah Banten, tepatnya di Kampung Cikawung.
Kampung Cikawung merupakan salah satu kampung yang ada di Desa Ujungjaya,
Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Kampung ini menjadi
kampung terujung di barat pulau Jawa dan berdekatan dengan Taman Nasional Ujung
Kulon.
Setelah
menjalani rangkaian panjang proses seleksi K2N UI, akhirnya Rabu, 17 Juli 2019,
saya bersama ketujuh anggota kelompok lainnya benar-benar pergi ke Kampung
Cikawung untuk mengabdikan diri selama 35 hari. Perjalanan menuju kampung
tersebut memakan waktu yang tidak sebentar. Kurang lebih delapan jam waktu yang
dihabiskan untuk menempuh perjalanan menuju kampung tersebut dari Depok dengan
menggunakan mobil.
Perkenalan dengan Orang Tua Asuh
Sesampainya
di Kampung Cikawung, saya bersama teman-teman lainnya langsung menuju rumah
yang akan menjadi tempat tinggal kami selama 35 hari. Beruntungnya, kami
menempati rumah seseorang yang berpengaruh di Kampung Cikawung. Pemilik rumah
tersebut bernama Yaya Zakaria. Ia adalah seorang guru sekolah menengah pertama
sekaligus ketua sebuah komunitas bernama Kompilasi (Komunitas Masyarakat Peduli
Alam Sekitar). Pak Yaya tinggal bersama istri dan seorang anak. Istri Pak Yaya
bernama Ibu Masitoh, kami biasa memanggilnya Bu Itoh, dan anaknya bernama Dika,
berusia 13 tahun. Saat diwawancarai untuk kebutuhan dokumentasi, Pak Yaya
menyebut dirinya sebagai orang tua asuh kami.
Ketika
kami tiba di rumah tersebut, kami hanya disambut oleh Bu Itoh dan Dika. Saat
itu, Pak Yaya sedang bertugas di kabupaten sehingga tidak dapat menyambut
kedatangan kami. Kami tiba ketika hari sudah hampir gelap dan sisa hari itu
kami lalui dengan obrolan ringan bersama Bu Itoh dan Dika. Sebenarnya, sebelum
hari itu, kami sudah sempat bertemu dengan keluarga Pak Yaya ketika kami
melakukan survei pada bulan Juni lalu. Saya ingat betul, waktu itu Pak Yaya
baru saja pulang dari pantai untuk melakukan penanaman bibit pohon mangrove. Obrolan singkat saat survei
itu hanya sebatas pengenalan diri, rencana kegiatan kami, dan mendengarkan
pengalaman Pak Yaya di Kompilasi.
Dari
obrolan singkat tersebut kami juga mendapati bahwa rumah Pak Yaya memang sering
dijadikan sebagai tempat tinggal mahasiswa yang melakukan kegiatan pengabdian.
Terakhir kali, rumah Pak Yaya ditempati oleh mahasiswa IPDN selama kurang lebih
40 hari. Dan kini, rumah tersebut menjadi tempat tinggal kami selama 35 hari.
Kehangatan keluarga Pak Yaya membuat kami kerasan menempati rumah tersebut.
Mungkin, hal itu juga yang dirasakan mahasiswa IPDN ketika tinggal di rumah Pak
Yaya. Kedekatakan keluarga Pak Yaya dengan mahasiswa IPDN terlihat dari foto
keluarga Pak Yaya bersama mahasiswa IPDN yang dipajang di dinding ruang tamu.
Serbapertama
Mengikuti
kegiatan K2N merupakan langkah besar yang saya ambil di tahun ini. Sejak 2018
keinginan untuk mendaftar K2N sudah ada, namun saat itu belum ada niat kuat
yang menetapkan hati untuk mendaftar. Mengingat tahun ini adalah masa-masa
terakhir kuliah, akhirnya saya bulatkan tekad untuk mendaftar kegiatan K2N. Perjalanan
mengikuti rangkaian seleksi K2N juga tidak sedikit dan perasaan ingin mundur
kerap muncul di pikiran. Namun, niat itu selalu saya urungkan tiap kali
mengingat ini adalah tahun terakhir kuliah, jadi harus dimanfaatkan sebaik
mungkin.
Akhirnya, saya benar-benar mengikuti kegiatan
K2N tahun ini. Bersyukur, saya yang orangnya selalu ragu-ragu ini tetap
mempertahankan niat awal untuk mengikuti kegiatan K2N hingga akhirnya dapat
menyelesaikan kegiatan tersebut bulan Agustus lalu. Selama menjalani kegiatan
K2N, saya banyak mendapatkan pengalaman baru dan banyak pula hal-hal yang
dilakukan pertama kali di sini. Salah satu hal yang untuk pertama kalinya
dilakukan adalah tinggal jauh dari orang tua dalam jangka waktu yang cukup
lama.
Selama
kuliah, saya memang memilih untuk tinggal di dekat kampus, meski jarak rumah
dan tempat kuliah dapat ditempuh dua jam perjalanan. Biasanya, ketika akhir
pekan saya rutin pulang ke rumah. Namun selama K2N ini, saya benar-benar tidak
menginjakkan kaki di rumah selama tiga puluh hari lebih. Hal tersebut justru
sangat saya syukuri karena dengan begitu saya dapat merasakan hal-hal yang
dirasakan oleh teman-teman saya yang merantau. Meski hanya satu bulan, namun
rasanya sudah cukup bagi saya untuk mengerti rasa rindu akan keluarga di rumah.
Kerinduan
akan keluarga juga semakin terasa ketika untuk pertama kalinya merayakan Hari
Raya Iduladha jauh dari rumah. Rasa sedih dan rindu semakin terasa ketika
mendengar suara takbir menggema di masjid dan melihat orang-orang datang
bersama keluarganya untuk salat Iduladha. Namun, rasa sedih itu tidak lagi
begitu terasa melihat senyum teman-teman, yang juga jauh dari keluarganya.
Bersama mereka, rasanya, saya menemukan keluarga baru.
Selain
itu, kebaikan Pak Yaya dan Bu Itoh melengkapi hari raya Iduladha kali ini sehingga
kami, mahasiswa yang mengikuti kegiatan K2N, tidak merasa kurang suatu apa pun.
Sejak pagi, Bu Itoh sudah memasak nasi dan aneka lauk untuk dimakan hari raya
ini. Sekali lagi, rasanya saya menemukan keluarga baru di sini. Bu Itoh dan Pak
Yaya membuat saya tidak terlalu merasa sedih karena merayakan lebaran jauh dari
orang tua. Mungkin, hal tersebut juga dirasakan oleh teman-teman lainnya.
Selepas
salat Iduladha, kami bersilaturahmi dengan warga sekitar. Setelah itu, kami
menyantap makanan yang sudah dimasak Bu Itoh. Nasi dan semur daging sudah menunggu
untuk disantap. Setelah selesai menyantap makanan, kami berfoto bersama
keluarga Pak Yaya di teras rumah. Foto yang kini menjadi sebuah kenangan, yang
tiap kali melihatnya selalu membuat saya rindu dengan keluarga Pak Yaya, rumah,
dan kenangan yang hadir di dalamnya.
|
|
|
Gambar 1 Berfoto saat Hari Raya Iduladha
Sumber:
Dokumentasi Pribadi, 2019
|
|
Melihat foto tersebut, selalu membuat saya teringat akan kebersamaan bersama teman-teman K2N, yang selama 35 hari menghabiskan waktu bersama, dari mulai makan hingga tidur pukul 2 pagi. Melihat foto tersebut, membuat saya teringat akan masakan Bu Itoh. Ikan asin dan kerang menjadi makanan favorit selama di sana.
Menemukan Renjana
Selama kegiatan K2N di Kampung Cikawung,
terdapat empat bidang yang menjadi fokus utama dalam menjalankan program
pengabdian. Empat bidang tersebut antara lain, pendidikan, kesehatan, ekonomi
kreatif, dan lingkungan. Saya mendapat kesempatan untuk bertanggung jawab di
bidang pendidikan bersama satu orang lainnya, yaitu Tia Marlina, mahasiswa
jurusan Psikologi.
Saya
bersama Tia merancang program-program dengan tujuan untuk menanamkan
nilai-nilai karakter, meningkatkan kemampuan Calistung (membaca, menulis,
berhitung), serta meningkatkan minat literasi kepada anak-anak sekolah dasar di
Kampung Cikawung. Berdasarkan tujuan tersebut, terdapat tiga program yang kami
laksanakan selama K2N di Kampung Cikawung, yaitu Pendidikan Karakter, Taman Baca
Inspirasi (TABSI), dan Belajar Aysik!.
Bertanggung jawab di bidang pendidikan
membuat saya terlibat langsung menangani masalah pendidikan, seperti
mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung serta menanamkan nilai-nilai
karakter. Selama satu bulan penuh menjalani peran sebagai pengajar, saya merasa
begitu menyukai peran tersebut. Bertemu dan belajar bersama anak-anak serta
melihat keceriaan mereka menjadi suatu hal yang paling berkesan dan menjadi
energi positif bagi saya selama K2N kemarin.
Banyak tantangan yang saya hadapi selama
menjalani peran sebagai pengajar. Salah satu tantangan yang harus saya hadapi
adalah membuat anak-anak tetap kondusif selama kegiatan belajar mengajar.
Anak-anak sering hilang konsentrasinya di pertengahan kegiatan sehingga membuat
suasana kelas menjadi gaduh. Hal tersebut membuat saya sadar bahwa menjadi
seorang guru sekolah dasar bukanlah pekerjaan yang mudah. Saya sangat kagum
dengan guru-guru sekolah dasar, terutama guru kelas 1, karena mereka begitu
sabar dalam mengajar dan mendidik.
Selain itu, ada hal menarik ketika saya
menjalani peran sebagai seorang pengajar. Ketika mengadakan bimbingan belajar,
saya berkenalan dengan seorang anak. Umurnya kira-kira 7 tahun. Ketika saya
menanyakan tentang sekolah anak itu, teman-temannya justru yang menjawab dan
mengatakan bahwa anak tersebut sudah jarang masuk sekolah.
Lalu, tiap kali saya bertemu anak itu,
saya sering bertanya mengenai alasannya tidak sekolah. Saya juga pernah
bertanya mengenai cita-citanya. Lalu, saya menanyakan perihal bagaimana ingin
menggapai cita-cita tersebut kalau malas sekolah. Akhirnya, beberapa hari
setelah pembicaraan tersebut saya bertemu anak itu di sekolah. Ketika saya baru
saja sampai di kelas 1, anak itu langsung menghampiri saya. Saat itu, saya sangat
senang mengetahui anak tersebut sudah sekolah kembali.
Guncangan Gempa
Jumat, 2 Agustus 2019 saya bersama
teman-teman K2N lainnya melaksanakan program penyuluhan di salah satu kampung
yang cukup jauh dari tempat kami tinggal, yaitu Kampung Cikawung Girang. Kami
mengadakan kegiatan tersebut malam hari, selepas warga melaksanakan salat Isya.
Sebelum acara tersebut terlaksana, terjadi hal yang tidak terduga. Gempa
berkekuatan 7,4 SR yang berpusat di Kecamatan Sumur mengguncang tempat kami
melaksanakan kegiatan K2N.
Saat itu, saya bersama teman-teman
lainnya baru saja tiba di area perkampungan setelah menempuh perjalanan
panjang, melewati persawahan di bawah remang-remang bulan dan cahaya senter.
Ketika kami baru saja tiba, beberapa warga keluar rumah dengan setengah
berlari. Saat itu, kami belum sadar bahwa terjadi gempa karena kami tidak
begitu merasakan guncangan gempa tersebut. Namun, ketika warga akhirnya teriak
“Lini, lini” dan melihat tiang listrik yang bergoyang, barulah kami sadar bahwa
terjadi gempa.
Di saat yang bersamaan tiba-tiba lampu
padam. Hal itu menyebabkan sinyal komunikasi terputus, yang juga membuat
terputus komunikasi dengan orang-orang di luar kampung. Meskipun listrik padam,
kami tetap melanjutkan kegiatan penyuluhan. Ketika penyuluhan baru saja
dimulai, listrik kembali menyala dan sinyal komunikasi aktif kembali. Ketika
sinyal komunikasi sudah berfungsi lagi, ratusan telepon dan pesan dari keluarga
di rumah masuk tidak henti-hentinya. Mereka yang berada di rumah mengkhawatirkan
keadaan kami ketika mendengar terjadinya gempa di tempat kemi melaksanakan
kegiatan K2N. Belum lagi, kabar adanya potensi tsunami semakin membuat mereka
kalut.
Akan tetapi, yang dikhawatirkan justru
merasa biasa-biasa saja. Menjalankan aktivitas yang seharusnya dilakukan hari
itu, yaitu kegiatan penyuluhan. Beruntungnya, warga tempat kami berkegiatan
tidak menampakkan kekhawatiran karena Kampung Cikawung Girang merupakan tempat
yang cukup aman. Bahkan, setelah kegiatan selesai, kami sempat mengabadikan momen
malam itu. Tidak terlihat wajah-wajah khawatir, padahal keluarga beserta
kerabat susah payah mencari tahu kabar kami semua.
Gambar 2 Kegiatan Penyuluhan Sampah Pascagempa
Sumber:
Dokumentasi Pribadi, 2019
|
|
Perpisahan
Sebulan
tiba-tiba berlalu begitu cepat. Suka dan duka senantiasa menyertai perjalanan
kami selama mengabdikan diri di Kampung Cikawung. Menjelang kepulangan kami, salah
seorang warga bertanya mengenai perasaan kami selama tinggal di Kampung
Cikawung. Katanya, jika kami merasa waktu berjalan cepat, berarti kami kerasan tinggal
di kampung tersebut. Akan tetapi, jika waktu sebulan terasa begitu lama,
berarti kami tidak nyaman tinggal di sana. Tentu saja, jawabannya adalah yang
pertama, waktu berjalan begitu cepat.
Tiba-tiba,
kami sudah tiba di tanggal 20 Agustus 2019, berarti sudah saatnya bagi kami
untuk pulang dan melanjutkan kegiatan perkuliahan lagi. Padahal, rasanya baru
kemarin kami tiba di kampung tersebut dengan diantarkan bus kampus. Namun kini,
bus yang mengantarkan kami sudah datang kembali untuk menjemput. Air mata tidak
dapat terbendung ketika bus kami melewati SDN Ujungjaya 01. Di sana, anak-anak
sudah menunggu di depan sekolah. Mereka memenuhi halaman sekolah sambil melambaikan
tangan ke arah bus. Dari balik jendela bus, saya melihat anak-anak menangis melepas
kepulangan kami. Rasanya begitu sesak di dada melihat pemandangan tersebut.
Perpisahan
ini terasa begitu menyesakkan mungkin karena ada begitu banyak kenangan yang
tercipta. Seperti perkataan Boy Candra (2016) bahwa pertemuan yang dibangun dengan kisah-kisah yang
kuat, akan menjadi perpisahan yang terasa berat. Iya, begitu berat rasanya
harus melangkah pergi meninggalkan kampung yang selama 35 hari banyak mengukir
kenangan.
Bagi saya, mengikuti kegiatan K2N bukan
hanya perihal mengamalkan ilmu, tetapi juga mendapat pembelajaran berharga. Ada
begitu banyak hal yang justru saya dapatkan setelah mengikuti kegiatan K2N.
Sebuah pembelajaran dan pengalaman yang semakin membuat saya mencintai
Indonesia dan membuat saya menemukan apa yang orang-orang sebut dengan passion atau renjana.
Daftar Pustaka
Candra,
Boy. (2016). Pada Senja yang Membawamu
Pergi. Jakarta: Gagas Media.
Hirata,
Andrea. (2005). Laskar Pelangi.
Yogyakarta: Bentang Pustaka.

0 comments