Untuk mencapai
sesuatu yang kita impikan, terkadang kita harus berulang kali dikecewakan,
berulang kali mengalami kegagalan.. mungkin memang kita tidak pernah tahu
bagaimana akhirnya nanti, tetapi kita berhak menentukan dan memperjuangkan
akhir yang bahagia.
Meski harus
melalui proses yang panjang dan melelahkan, meski harus berurai air mata dan
berpeluh keringat.. apalah artinya semua itu, jika yang didapatkan sesuai dengan yang
diperjuangkan..
Bekasi, 21 Februari 2016
Assalamu’alaikum,
hay sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada kalian yang sudah mau
meluangkan waktunya untuk mengunjungi blog saya. Perkenalkan nama saya Aliyah,
saya lahir di Bekasi, 18 maret 1998. Saya suka menonton
film, terutama film Thailand. Untuk mengenal saya lebih dekat atau ingin
berbagi cerita soal Thailand bisa hubungi saya di Facebook atau mention Twitter saya maupun melalui Google+
Dan
mohon maaf apabila ada salah kata maupun kesalahan lainnya dalam tulisan yang
saya posting di blog ini, bila berkenan bisa mengirimkan kritik dan sarannya melalui
email saya saliyah@rocketmail.com
Terimakasih,
Wassalam
Siapa
sih yang nggak ikutan kesetrum ngelihat si cantik, May (Punpun – Sutatta Udomsilp)?
Atau jadi pingin ikutan digambar sama si kutu buku, Pong (Bank – Thiti Mahayotaruk)?
Buat
yang udah nonton Hormones The Series pastinya udah nggak asing lagi dengan
pemain dalam film may who, karena semua pemeran utamanya merupakan pemain
hormones the series. Nggak kalah sama Hormones the series, film May Who ini
juga berhasil memikat hati gue. Film May Who ini rilis di Thailand pada 1
Oktober 2015, yang bercerita tentang May yang memiliki rahasia yaitu bisa
mengeluarkan listrik apabila jantungnya berdetak lebih dari 120 denyut per
menit. May menyukai kakak kelasnya yang populer yang bernama Fame (Tor
Thanapob). Di lain sisi ada Pong yang merupakan seorang siswa kutu buku yang
selalu menggambar gadis yang disukainya yaitu Ming (Narikunn Ketprapakorn). May selalu
menyembunyikan rahasia yang ada pada dirinya dari semua teman – teman sekolahnya,
apabila salah satu temannya ada yang mengetahui rahasianya maka May akan pindah
sekolah. Film may Who ini bergenre RomCom (Romantis Komedi), di dalam film ini
kita juga akan disuguhkan dengan scene – scene animasi yang menarik buat
ditonton. Karena berlatar belakang masa – masa sekolah lebih tepatnya sih
masa-masa SMA, kita bakal disuguhin dengan kejadian lucu ketika SMA misalnya
euforia kalau ketemu dengan murid
populer, atau sebagai murid yang tidak terkenal kita hanya bisa mengagumi orang
yang kita sukai secara diam-diam, atau ada juga pembagian golongan murid mulai
dari murid yang populer sampai murid yang bahkan kehadirannya tidak dianggap. film ini recomended buat kamu yang kangen sama masa-masa SMA nya, sama kaya gue gini huhu -_-
Rating : 9/10
Beberapa cuplikan adegan dalam film May Who
Rating : 9/10
Beberapa cuplikan adegan dalam film May Who
![]() |
| Gambar : http://revoluside.com/kegagalan-apakah-aku-mengenalnya/ |
Untuk waktu yang kita kira terbuang
sia-sia, bukan berarti tidak ada hikmahnya. Terkadang kita hanya menyalahkan diri tanpa peduli apa yang menjadi penyebabnya. Begitulah apa yang gue alami
saat ini. Ketika apa yang gue lakuin
dalam 4 bulan belakangan selalu gagal, gue hanya bertanya kenapa? Kenapa bisa
gagal? Lebih tepatnya ketika semua tes yang gue jalani untuk masuk ke perguruan
tinggi selalu gagal dan tidak pernah berhasil, gue hanya bertanya pada diri gue
sendiri kenapa bisa gagal? Berulang kali gue coba memulai kembali, tanpa rasa
ragu sedikit pun dan yakin kali ini bisa lolos, namun hingga pada tes yang
terakhir kali dijalani dan menjadi harapan terakhir untuk mewujudkan apa yang
menjadi cita-cita gue, tes yang terakhir itu pun lagi-lagi gagal.
Kecewa? Pasti, sedih? Apalagi. Sepanjang
hari, gue cuma bisa nangis, setiap kali gue inget betapa banyak pengorbanan
yang udah gue lakuin untuk mewujudkan apa yang udah gue cita-citakan, tapi lagi-lagi gagal dan
pupus gitu aja. Betapa bodohnya gue, betapa nggak bergunanya gue, dan betapa
semua yang udah gue lakuin hanya sia-sia aja. Ketika mereka dengan bahagianya
memposting foto di facebook dengan almamater kebanggaannya, gue melihat dengan
perasaan getir. Jujur, gue iri. Harusnya saat ini gue bisa kayak mereka yang
dengan bangganya berada di kampus impian mereka, yang dengan bangganya
mengenakan almamaternya. Dan harusnya gue juga bisa ngerasain apa yang mereka
rasain saat ini ketika menjadi Mahasiswa Baru.
Bersyukur dan Introspeksi
Diri
Jujur memang saat ini masih suka sedih
kalau inget gue gagal waktu itu. Dan gue cuma bisa bertanya kenapa sih gue
selalu gagal, kalau gagal 1 atau 2 kali gue masih bisa ikhlas nerimanya, tapi
dalam 4 bulan belakangan gue gagal sampai 4 kali. Mungkin hal yang gue alami
saat ini, juga dialami oleh banyak orang yang belum lama ini menjalani berbagai
tes untuk masuk perguruan tinggi, bahkan ada yang bisa lebih parah dari ini,
tapi nggak sedikit juga yang akhirnya berusaha untuk terus lanjut menggapai
impiannya atau bahkan yang justru menyerah dalam pertempuran. Bisa dibilang gue
adalah orang yang menyerah dalam pertempuran kali ini, ada beberapa hal yang
nggak bisa gue paksain untuk terus ngelanjutin perjuangan gue, dan gue putusin
untuk memulai kembali tahun depan. Tetapi semakin gue kecewa terhadap diri gue
sendiri, semakin gue menyalahkan diri gue, dan menyalahkan terhadap kehendak
Allah, gue semakin sedih dan nggak tahu harus berbuat apa lagi.
Dari berbagai alasan yang membuat gue
kecewa terhadap diri gue sendiri, ada ribuan alasan untuk tetap tegar dan
menerima dengan ikhlas apa yang terjadi saat ini. Semua yang terjadi dalam
hidup ini tidak terlepas dari kuasa-Nya dan pasti selalu ada hikmahnya. Dan mungkin
lebih baik dari pada gue selalu menyalahkan diri sendiri, harusnya gue juga bertanya apa
yang menyebabkannya? Memang dalam beberapa bulan ini, hari-hari yang gue jalani
terasa berat dan semakin membuat gue down karena gue cuma menyalahkan diri gue
sendiri, dan selalu bertanya kenapa tanpa menemukan jawaban pasti. Mungkin harusnya
sekarang gue introspeksi diri dan bersyukur terhadap apa yang terjadi saat ini.
Memang pada kenyataannya untuk mengikhlaskan sesuatu itu sulit, namun agar
hidup menjadi lebih baik maka sudah sepatutnya gue ikhlas dan bersyukur. Sampai
saat ini dan untuk selamanya, gue percaya bahwa apa yang terjadi saat ini
merupakan jalan yang terbaik yang diberikan oleh Allah. Karena biar sekuat
apapun kita berusaha, namun bila hal tersebut bukan yang terbaik dan tidak
diridhoi oleh Allah, maka tidak akan terjadi. Ya mungkin Allah memberikan gue
waktu untuk memperbaiki semuanya. Ya begitulah… mungkin gue harus
mengintrospeksi diri dari berbagai hal yang membuat gue gagal. Dan sudah
semestinya gue bersyukur terhadap ketentuan-Nya agar gue bisa lebih bijaksana
dalam menelaah setiap takdir yang diberikan.
Meskipun gagal tahun ini, bukan
berarti dalam satu tahun kedepan gue terus terpuruk dan meratapi nasib gue. Sudah
semestinya gue bangkit, dan mempersiapkan diri untuk lebih baik tahun depan. Lewat
tulisan ini semoga gue bisa mengingat betapa pahitnya kegagalan agar untuk
kedepannya tidak mengulangi kegagalan lagi dan tidak lagi merasakan betapa
getir dan hambarnya rasa kegagalan. Dan untuk waktu yang gue kira terbuang
dengan sia-sia, gue salah. Justru sisi positifnya, apabila tahun depan gue
mencoba lagi untuk mengikuti tes perguruan tinggi setidaknya gue udah punya
pengalaman. Seperti firman Allah dalam surat Al-Insyirah ayat 6 yang
bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Jadi, jangan putus asa.







